Wednesday, April 1, 2015

sejarah bani umayyah

Kata pengantar
Assalamualaikum Wr.Wb
            Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah swt. yang telah memberikan kekuatan dan keteguhan hati kepada saya untuk menyelesaikan makalah  ini. Sholawat beserta salam semoga senantiasa tercurah limpahan kepada nabi Muhammad saw. yang menjadi tauladan para umat manusia yang merindukan keindahan syurga.
Saya menulis makalah ini bertujuan untuk mempelajari dan mengetahui ilmu tentang Sejarah Peradaban Islam yang diberikan oleh dosen mengenai Dinasti Bani Umayyah. Selain bertujuan untuk memenuhi tugas ujian tengah semester, tujuan saya selanjutnya adalah untuk mengetahui proses pendirian bani Umayah, pola pemerintahan Bani Umayah, Pola pemerintahan Umar ibn Abdul Aziz hingga pemerintahan khalifah marwan bin muhammad, Ekspansi wilayah, dan Peradaban Islam Pada masa Dinasti Bani Umayyah.
Dalam penyelesaian makalah ini, saya banyak mengalami kesulitan, terutama disebabkan kurangnya ilmu pengetahuan. Namun, berkat membaca buku dan kesungguhan dalam menyelesaikan makalah ini, akhirnya dapat diselesaikan dengan baik.
            saya menyadari, sebagai seorang pelajar yang pengetahuannya tidak seberapa yang masih perlu belajar dalam penulisan makalah, bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang positif demi terciptanya makalah yang lebih baik lagi, serta berdayaguna di masa yang akan datang.
            Besar harapan, mudah-mudahan makalah yang sangat sederhana ini dapat bermanfaat dan maslahat bagi semua orang.
Wasalamu'alaikum Wr.Wb









Daftar isi
1.      Kata pengantar                                                                                                                    1
2.      Daftar isi                                                                                                                             2
3.      Bab 1 pendahuluan
           Latar belakang                                                                                                         3
           Rumusan masalah                                                                                                   4
           Tujuan penulisan                                                                                                     4
4.      Bab 2 penbahasan
A.    Antara bani umayyah dan bani hasyim                                                              5
B.     Pendidikan dizaman bani umayyah                                                                   25
C.    sistem pemerintahan dinasti bani umayyah                                                       31
D.    cirri-ciri sistem pemerintahan dinasti bani umayyah                                        34
E.     masa kemunduran dan keruntuhan bani umayyah                                            34
5.      Bab 3 kesimpulan dan saran                                                                                             38
           Saran                                                                                                                      40
           Daftar rujukan                                                                                                        41
             










Bab satu
Pendahuluan
A.    Latar belakang
Kejayaan yang dicapai muawiyah ibn sufyan dalam kekhalifahan umat muslim setelah wafatnya khalifaur Rasyidin  Ali bin Abi Thalib dapat dikatakan sukses, meskipun hasan putra Ali dideklarasiakan oleh umat muslim madina sebagai pengganti Ayahnya menduduki jabatan khalifah ketika itu namun setelah melewati beberapa pertimbangan dan renungan  demi menghindari pertumpahan darah antar sesama muslim  maka oleh hasan menyerahkan sepenuhnya kekhalifahan kepada muawiyah ibn   Sufyan. ahkirnya Muawiyyah di baiat secara resmi dan dideklarasikan sebagai khalifah  umat muslim
Perkembangan sistem pemerintahan muawiyah  telah mengubah warna suksesi kepemimpinan dengan jalan musyawarah menjadi monarki atau system kerajaan yang diwariskan secara turun temurun, indikasinya dapat dilihat sikap muawiyah mengangkat anaknya sendiri Yazid, sehingga pada umumnya sejarahwan memandang negativ terhadap Muawiyah karena pada awal keberhasilan memperoleh legalitas atas kekuasaanya dalam perang siffin dicapai melalui arbitrase.
Selama kurang lebih 90 tahun kekuasan Bani Umayyah  menduduki pemerintahan umat muslim,letaknya  di Damaskus sebagai ibu kota Negara yang sebelumnya Muawiyah menduduki jabatan gubernur dikota tersebut setelah kekhalifahan direbut oleh Muawiyah memindahkan ibu kota Negara ke damaskus sebagai sentral pemerintahan dan ketata negaraan umat muslim  disinilah Muawiyah membangun kekuatan awal Dinasti bani Umayyah.
Perjalanan sejarah Kesuksesan dan kejayaan yang dicapai sebagai indikator keberhasilan  Bani Umayah dalam melakukan ekspansi kekuasaan islam bukan hanya penaklukan-penaklukan wilayah akan tetapi realitas sejarah perkembangan yang dicapai meliputi  bebagai bidang seperti sastra , ilmu pengetauan, ekonomi dan administrasi
Dinamika  pemerintahan  Dinasti  Bani umayyah ternyata dibalik kesuksesan dalam pemerintahannya, perlahan-lahan juga mengalami degradasi dan keruntuhan kekuasaan yang dialami oleh  khilafah terahkir Marwan ibn Muhammad. Keruntuhan tersebut dimulai bermunculan dari beberapa kelompok untuk melakukan perlawanan dengan motif yang berbedah-beda diantaranya dendam politik lama dan relevansinya dengan perselisihan klasik bani Hasyim dan bani Umayyah.
B.     Rumusan masalah
1.siapa sajakah khalifah yang memimpin pemerintahan bani umayyah dan system politiknya  ?
2.negara mana saja yang telah di taklukkan oleh bani umayyah ?
3.apa saja sebab-sebab runtuhnya bani umayyah dari segi internal dan eksternalnya ?

C.    Tujuan penulisan
1.Agar mahasiswa dapat mengetahui bagaimana sejarah bani umayyah secara keseluruhan.
2.agar mahasiswa dapat mengetahui system pendidikan dizaman dinasti bani umayyah
3.Agar mahasiswa dapat mengetahui system politik yang dijalankan oleh dinasti bani umayyah


















Bab dua
Pembahasan

A.   Antara bani umayyah dan bani hasyim.
      Mu’awiyah bin abi sufyan, pendiri baulat bani umayyah ialah cicit dari umayyah bin abdi syams bin manaf, umayyah adalah seorang dari pemimpin quraisy di zaman jahiliyyah, ketinggian dan kemuliannya seimbang dengan hasyim bin abdi manaf. Oleh karena itu tidak mengherankan kalau keturunan umayyah dan keurunan hasyim selalu berlomba dalam merebut pengaruh dan kedudukan di kalangan quraisy. Perlombaan itu kerap kali menimbulkan pertikaian dan pertumpahan darah antara kedua belah pihak, baik di zaman jahiliyah maupun di zaman islam.
        Diantara keturunan bani umayyah yang terkenal ialah: harb, abu sufyan, mu’awiyah bin abi sufyan, dan yazid bin mu’awiyah.
        Ketinggian derajat abu sufyan bin harb dalam kalangan suku quraisy dapat dilihat ketika nabi Muhammad membebaskan mekkah, nabi pernah berkata ketika itu: “barang siapa yang menyarungkan pedangnya,maka ia aman, siapa yang masuk masjid maka ia aman, siapa yang masuk rumah abu sufyan maka diapun akan mendapat keamanan”.
        Perkataan rasulullah yang sedemikian itu menjadi tanda kehormatan besar bagi abu sufyan, kehormatan yang tak pernah diterima oleh siapapun dari para sahabatnya.
         Sedangkan yazid bin mu’awiyah pernah diserahi oleh khalifah abu bakar memimpin pasukan tentara islam yang pergi menaklukkan syam dan kemudian diangkat menjadi gubernur di kota damaskus,dan mu’awiyah bin abi sufyan dijadikan gubernur di daerah syam. Setelah khalifah abu bakar wafat,daerah pemerintahan yazid diserahkan oleh khalifah umar kepada mu’awiyah.kemudian di zaman khalifah utsman, mu’awiyah diangkat menjadi wali atas seluruh negeri syam.
          Demikian riwayat keturunan umayyah ini. Mereka pernah menjadi penguasa di zaman jahiliyyah dan zaman islam.


1.     Mu’awiyah bin abi sufyan (40-60 H. = 660-680 M.)
Mu’awiyah bin abi sufyan menjadi khalifah 
       Mu’awiyah bin abi sufyan dapat menduduki kursi khalifah dengan berbagai cara.yaitu dengan ketajaman mata pedangnya, dengan siasatnya dan dengan politikya. Bukanlah ia mendapat pangkat yang mulia itu dengan ijma  dan persetujuan ummat islam, melainkan karena siasat politik.
        Dengan naiknya mu’awiyah sebagai khalifah maka berakhirlah hukum syura, pemilihan menurut hasil permusyawaratan terbanyak terbanyak, yang berlaku di zaman khilafaurrasyidin, yaitu hukum yang menyerupai aturan pemerintahan republik maka daulat islam pun berubah sifatnya menjadi daulat yang bersifat kerajaan (monarki)
         Sesungguhnya mu’awiyah telah sangat terpengaruh oleh peraturan –peraturan peninggalan romawi negeri syam, yakni di negeri tempat ia memerintah sebelumnya menjadi wali.
        Kemegahan dan kemuliaan raja-raja yang belum pernah ditiru oleh khalifah-khalifah yang terdahulu. Dia telah memakai singgasana dan kursi kerajaan serta mengadakan barisan pengawal yang senantiasa menjaga dirinya mulai siang hingga malam. Bahkan dalam masjidpun ia mendapatkan tempat yang istimewa, tempat dia sembahyang seorang diri, dan selalu dijaga oleh pengawalnya. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi peristiwa seperti yang pernah terjadi atas diri ali bin abi thalib.
Kepribadian mu’awiyah bin abi sufyan.
         Mu’awiyah bin abi sufyan adalah seorag diplomat arab yang terkenal, ialah yang di tugaskan  oleh rasulullah SAW menyamampaikan surat beliau kepada  kaisra imperium romawi (Byzantium), seorang yang beruntung dalam karier politiknya, sehingga dia dapat mencapai kekuasaan dan kedudukan yang amat tinggi yang sebetulnya masih banyak yang lebih pantas darinya. Tabi’atnya yang penyantun lagi sabar menderita atas segala bencana dan celaan membuka jalan baginya dlam mencapai dan melaksanakan cita-citanya.
         Dengan sifatnya yang sedemikian itu ia dapat mengalahkan perlawanan partai ummat islam atas dirinya. Dalam soal keagamaan, fahamnya luas dan fanatik. Ini terbukti dengan pengangkatannya seorang Kristen bernama sarjun menjadi menteri keuangannya. Dan kebijakannya memperbaiki gereja di irak yang runtuh akibat bencana gempa bumi. Bahkan ahluzzimmah sendiri, yaitu seorang yahudi dan nasrani yang tunduk dibawah undang-undang kerajaan islam. Mengakui akan keadilannya dan ketidak fanatikannya dalam agama. Mereka seringkali menyerah perkara mereka yang teristimewa pentingnya kepada mu’awiyah sendiri.
Penaklukan di zaman mu’awiyah
A.Penaklukan kea rah timur
     Mu’awiyah meluaskan kedaulatan islam ke negeri-negeri sebelah timur, hingga sampai ke negeri sind (daerah sungai Indus di india ). Gubernurnya yang di khurrasan yaitu sa’id putera utsman bin affan, diperintahkan untuk menyebrangi sungai sihon untuk menaklukkan Samarkand dan sughda (sogdiana) sehingga kedua negeri ini tunduk di bawah kekuasaannya.
B.Perang melawan Byzantium
      Imperium Byzantium senantiasa mengerahkan laskarnya menjarah ke negeri-negeri yang di perintah oleh daulat islam. Oleh sebab itu ia mu’awiyah bin abi sufyan mempersiapkan laskarnya untuk memerangi imperium itu dari darat dan laut. Untuk melaksanakan pekejaan yang berat ini agar berhasil. Maka ia memerintahkan angkatan perangnya memerangi orang-orang Byzantium terus menerus, baik di usim dingin maupun di musim panas.
       Angkatan perang mu’awiyah dapat mengalahkan tentra Byzantium dalam beberapa pertempuran di Armenia dan di asia kecil. Armadanya yang ketika itu terdiri dari 1700 kapal perang kecil. Diperintahkan menyerang pulau-pulau Cyprus dan rhodus di laut tengah, sehingga kedua pulau itu dan beberapa pulau lain di archipel dapat di taklukkan.
        Pada tahun 48H (669 M) mu’awiyah melengkapi angkatan perangnya yang dipimpin oleh panglima sufyan bin ‘auf beserta sepasukan armada dibawah pmpinan laksamana fadhalah al-anshary, untuk menyerang konstantinopel (ibu kota Byzantium). Sebagai panglima besar atas kedua angkatan perang itu diangkat puteranya yazid bin mu’awiyah.






Serangan pertama ke konstantinopel
        Tentara besar itu menyerbu memasuki daerah-daerah romawi timur dan kemudian mengepung konstantinopel. Akan tetapi angkatan perang ini tidak mampu menaklukkan kota itu karena benteng-bentengnya sangat kuat. Akhirnya laskar besar itu terpaksa kembali ke syam setelah kehilangan beberapa buah kapalnya dan sebagian besar balatentaranya. Dalam pertempuran itu meninggal pula seorang sahabat yang menerima rasulullah SAW dirumahnya sendiri ketika beliau hijrah ke yastrib, yaitu abu ayyub. Untuk peringatan bagi sahabat yang mulia itu didirikanlah dikemudian hari sebuah masjid megah di tenga kota konstantinopel bernama masjd ayyub. Sampai kini masjid pusaka itu senantiasa diziarahi orang.

Serangan kedua
       Pada tahun 58 H (679 M) mu’awiyah mengerahkan balatentaranya untuk kedua kalinya mengepung ibukota kerajaan Byzantium. Pengepungan yang sekali ini memakan waktu dua tahun lamanya. Akan tetapi ketika pengepungan itu hamper usai, mu’awiyah meninggal dunia,dan angkatan perangnya yang mengepung ibukota Byzantium itu dipanggil ke syam. Para pemimpin daulat bani umayyah yang menggantikan mu’awiyah melanjutkan usaha-usaha mu’awiyah itu dengan sangat sungguh-sungguh.
C.Perang afrika
       Pada tahun 50 H. mu’awiyah mengangkat uqbah bin nafi’ menjadi wali di maghrib, panglima ini dapat mengalahkan serdadu romawi di daerah itu, sehingga daerah daulat islam sampai ke negeri Tunisia. Dengan usaha upbah ini banyak bangsa barbar yang memeluk islam. Disana didirikan masjid nafi’ yang terkenal sebagai peringatan atas sahabat pemimpin perang tersebut.
Pengangkatan putera mahkota
        Pada tahun 56 H (676 M) Mu’awiyah dengan wibawanya sebagai khalifah bisa membawa dewan syura khilafah untuk memilih puteranya yazid menjadi calon khalifah pengganti yang akan langsung menggantikan dirinya kalu mati. Dengan perbuatannya ini berarti mu’awiyah telah mengangkat putera mahkota yang merupakan puteranya sendiri, yang berarti telah mulai merubah undang-undang khilafah yang semula dipilih oleh majlis permusyawaratan ummat islam menjadi turun temurun. Dan dia pun telah melanggar janjinya dengan hasan bin ali, yaitu janji yang telah diikrarkannya, bahwa pangkat khalifah sepeninggalannya diserahkan kepada permusyawaratan ummat islam.
        Walaupun mu’awiyah mengemukakan alasan,bahwa dia berbuat sedemikian itu untuk mnghindari fitnah dan persengketaan sebagaimana yang pernah terjadi pada zaman khalifah-khalifah pendahulunya, namun siasatnya yang sedemikian itu menimbulkan huru-hara dan pemberontakan sepeninggalannya.

1.     Yazid bin mu’awiyah (60-63 H = 680-683 M).
Sikap para sahabat atas pemerintahan yazid
        Ibu yazid adalah wanita pedalaman yang dinikahi oleh mu’awiyah sebelum ia menjadi khalifah. Oleh karena itu ia pun membawa puteranya yazid pulang ke dusun untuk didik di dalam lingkungan yang masih bersih, bahasa yang masih murni dan penuh kearifan dan sopan santun. Maka ia tumbuh dengan sifat baduinya yang pemberani dan fasih bertutur kata, serta pandai bersyair.
        Akan tetapi ia bukanlah seorang yang ahli dalam menduduki kursi khalifah, karena ia dinilai mempunyai tabi’at yang di nilai tidak baik menurut hukum agama. Oleh karena itu pemerintahannya tidak di sukai oleh para sahabat besar terutama, seperti Husein bin ali dan Abdullah bin zubair.

Peristiwa karbala (61 H = 681 M.)
         sebagian penduduk irak mengirim surat kepada husein bin ali meminta ia datang ke kufah. Mereka mengatakan bahwa mereka bersedia memberikan bantuan kepada husein dalam segala hal yang di hajatkannya. Huseinpun terpedaya dengan bunyi surat itu. Dia lupa akan apa yang telah dilakukan oleh penduduk irak atas ayahandanya Ali bin Abi Thalib dan saudara kandungnya Hasan bin ali. Dengan pengiring yang jumlahnya tidak lebih dari 80 orang, ia berangkat menuju kufah. Akan tetapi ketika ia sampai di karbala, ia bertemu dengan tentara yazid yang di pimpin oleh Ubaidillah bin Ziad.




Kematian Husein
         Terjadilah perdebatan antara husein dengan ubaidillah yang meminta agar husein tidak melanjutkan perjalanannya, namun atas desakan beberapa pengikutnya husein tetap bulat meneruskan perjalanannya yang menyebabkan bentrokan dengan tentara yazid. Dengan kejadian ini husein baru insyaf kalau ia tertipu, sebab tidak banyak penduduk irak yang membantunya. Maka terjadilah pengepungan atas husein serta para pengikutnya yang hanya sedikit itu oleh tentara ubaidillah bin ziad yang berpuluh kali lipat banyaknya. Alam pertempuran itu husein terbunuh dengan sangat mengenaskan, kepalanya dipisah dari tubuhnya dan diserahkan kepada yazid di damaskus.
          Sekalipun yazid orang yang dzalim, tetapi kematian husein yang mengerikan itu menyedihkan hatiny, karena ayahandanya (mu’awiyah) berwasiat kepadanya,bahwa jika nanti terjadi perselisihan dengan husein dan ia bisa menundukkan husein bin ali maka ia harus memaafkannya dan menghormatinya. Tapi kini apa boleh buat, ia hanya bisa memberikan kemurahan hatinya kepada anak-anaknya husein dan kaum keluarganya, mereka itu dikirimkannya ke hijaz dengan segala penghormatan dan kemuliaan.

Pemberontakan hijaz
         Berita perang karbala yang menyedihkan itu tersebar luas, berita itu menggemparkan ummat islam. Hati mereka diliputi kesedihan dan dendam yang menyala-nyala. Maka orang-orang syi’ah bersatu hendak menuntut balas,sifat benci ummat islampun semakin bertambah terhadap keluarga bani umayyah.
          Kesedihan dan kemarahan itu meluao dimana-mana, terutama di kota madinah tempat di kuburnya kakek husein bin ali, yaitu nabi Muhammad SAW. Maka meletuslah pemberontakan besar di kota madinah menentang pemerintahan yazid pada tahun 63H.(683M.) kaum pemberontak yang telah naik darah itu dapat mengusir wali madinah dan menangkapi beberapa orang yang berasal dari keturunan bani umayyah.
           Untuk memadamkan pemberontakan besar itu yazid mengerahkan 12.000 pasukannya yang dikepalai oleh muslim bin ‘uqbah.
            Laskar itu mengepung kota madinah dari juruan wadil harrah, yaitu dari utara kota itu, kemudian kota itu menyerah dan dapat dikuasain kembali oleh bani umayyah.
            Setelah dapat menundukkan kota madinah, muslim bin ‘uqbah beserta laskarnya melaju ke makkah, karena disana Abdullah bin zubair telah mengangkat dirinya sebagai khalifah kemudian diperkuat dengan bai’at penduduk kota itu. Akan tetapi sementara dalam perjalanan, muslim bin ‘uqbah meninggal dan pimpinan laskar sementara diserahkan kepada hasyim bin numair seorang panglima bani umayyah yang terkenal juga.
             Setelah mereka tiba di makkah, terjadilah pertempuran sengit antara mereka dan tentara Abdullah bin zubair (64 H .=683 M.) ketika itu sebagian dinding ka’bah runtuh karena terkena pelontar.
             Ditengah berkecamuknya peperangan,datanglah berita dari syam yang menyatakan bahwa yazid telah meninggal dunia.dan oleh karena itu ibnu numair pun menghentikan peperangan .
             Segala peristiwa itu merupaka bencana besar yang telah menimpa ummat islam di zaman pemerintahan yazid untuk selama-lamanya.

3.Mu’awiyah Bin Yazid (64 H=683 M)
           Sebelum yazid meninggal dunia ia telah berwasiat bahwa puteranya mu’awiyah bin yazid diangkat menggantikan dia menjadi khalifah, menurut cara yang telah dilakukan oleh ayahandanya mu’awiyah bin abi sufyan.
             Akan tetapi mu’awiyah 2 bin yazid ini hanya memerintah 40 hari saja, Karena ia sakit-sakitan dan jiwanya membeontak tidak dapat bertanggung jawab aas perubahan dan kerusakan yang ditinggalkan oleh ayhnya. Maka dengan kemauannya sendiri ia turun dari kursi khilafah, dan pangkat khalifah diserahkan kepada musyawarah ummat islam agar mereka dengan merdeka memilih dan mengangkat seorang khalifah yang layak menurut mereka. Namun cita-citanya itu tidak menjadi kenyataan, karena pemilihan khalifah telah ditentukan oleh kemauan keluarga bani umayyah.




4.Marwan bin hakam (64-65 H.=683-685 M.)
    Perpecahan keluarga bani umayyah
           Setalah mu’awiyah 2 menyatakan berhenti dari khalifah. Timbul persoalan pelik diantara penduduk syam, yaitu tentang siapa yang akan dipilih menjadi khilafah. Kesulitan itu adalah perpecahan dikalangan bani umayyah, yaitu kelompok yang hendak mengangkat Khalid bin yazid yang masih kecil dan kelompok yang hendak mengangkat marwan bin hakam, seorang yang tertua dalam keuarga bani umayyah. Karena perpecahan inilah khlafah nyaris terlepas dari kekuasaan bani umayyah.
Penolakan Abdullah bin zubair
             dalam pada itu Abdullah bin zubair semakin luas pengaruhnya. Ia telah diakui menjadi oleh penduduk hijaz,irak,yaman dan mesir, bahkan sebagian penduduk syam juga telah ada yang berpihak kepadanya. Akan tetapi Abdullah bin zubair ini bukanlah seorang ahli siasat yang tajam pandangannya.
             Hasyim bin numair panglima perang bani umayyah yang memeranginya di mekkahpun telah datang hendak membaiatnya. Asalkan ia pindah ke syam.tetapi tawaran itu di tolak oleh Abdullah bin zubair, karena ia hendak menghidupkan kemegahan dan kebesaran di tanah hijaz sekali lagi, dengan menjadikan pusat khilafah ummat islam. Dia tidak menyadari bahwa keputusannya itu telah mengurangi dukungan atasnya untuk menjadi seorang khilafah secara menyeluruh. Sementara bani umayyah telah kembali dan kemudian mereka menetapkan marwan bin hakan menjadi khalifah pada tahun 64 H. dengan demikian khilafah telah berpindah dari keturunan abu sufyan kepada keturunan marwan bin hakam, dari belahan suku umayyah yang lebih besar.
             Disini terjadilah perlombaan dua pemimpin besar yaitu Abdullah bin zubair di makkah dan marwan bin ham di damaskus.



Huru hara di syam
             Pada masa pemerintahan marwan inilah terjadi huru-hara di Negara syam. Tetapi berkat kesungguhan dan keteguhan hatinya marwan bisa mengatasi dan mengirimkan pasukannya ke mesir untuk merebut propinsi itu dari tangan walinya yang diangkat oleh ibnu zubair.
             Marwan hanya memerintah selama 9 bulan, waktu tersebut hanya digunakan untuk menguatkan kedudukannya saja, dan sebelum ia meninggal ia telah menetapkan penggantinya     
5.Abdul malik bin marwan (65-86 H=685-705 M)
A. Kepribadia abdul malik bin marwan
           Setelah marwan bin hakam wafat, timbullah kekacauan dalam daulat bani umayyah, sehingga hamper saja daulah itu pecah belah dan hancur oleh pemberontakan dan huru hara dalam negeri. Akan tetapi untunglah khalifah yang menggantinya abdul malik bin marwan, yaitu puteranya sendiri seorang yang bijaksana dan berhati baja,pandai dan cerdik dalam mengurus segala urusan kerajaan. Ia termasuk seorang khalifah yang besar yang bersejarah dalam daulat bani umayyah.
           Langkah pertama kepemimpinannya ialah memadamkan segala pemberontakan dan huru-hara. Peperangan melawan para pemberontak itu berjalan selama tujuh tahun lamanya,setelah itu pemerintahan berjalan normal dan kedudukan khalifah menjadi kokoh kembali.
B.Kesulitan-kesulitan yang dihadapi   
 1.menghadapi perlawanan kelompok syi’ah
            Lantaran pembunuhan husein bin ali di karbala, api kemarahan hati ummat islam menyala atas keluarga bani umayyah. Syi’ah berusaha menyebarkan bibit-bibit kebencian ummat islam yang ada di kufah terhadap bani umayyah, sehingga timbul penyesalan dan dendam yang sangat mendalam. Orang-orang kufah berangkat menuju ke ‘ainul wardah, satu tempat dekat sungai euphart. Mereka dapat menarik sebagian besar penduduk basrah dan madin kedalam barisan mereka. Mereka hendak memberontak.
            Setelah abdul malik bin marwan mendengar berita tersebut, ia segera mengerahkan pasukannya sebanya 30.000 orang dibawah pimpinan ubaidillah bin ziad. Pasukan ini berhasil mematahkan kaum pemberontak.
             Namun sesaat setelah itu golongan syi’ah yang lain dibawah pimpinan mukhtar bin abi ubaid, sebagai wali irak yang diangkat oleh Abdullah bin zubair,menyatakan berdiri sendiri keluar dari kedua kekuasaan baik bain umayyah atau Abdullah bin zubair.
             Perlawanan mukhtar ini memporak-porandakan pasukan ibnu ziad , bahkan ubaidillah bin ziad pun mati terbunuh.
2.Menghadapi Abdullah bin zubair
             Khalifah Abdullah bin zubair mengangkat saudaranya mash’ab menjadi gubernur di irak. Dia di perintahkan oleh Abdullah merebut irak kembali dari tangan mukhtar, wali yang mendurhakainya.
             Pertempuran antara laskar mukhtar dan laskar mash’ab terjadi, mash’ab memperoleh kemenangan, sedangkan mukhtar beserta laskarnya yang berjumlah 7000 mati terbunuh di medan perang, peristiwa ini terjadi pada tahun 67 H.(687 M.).
             Setelah mash’ab membersihkan irak dari pengaruh partai syi’ah yang dikepalai mukhtar bin ubaid, ia bersiap-siap hendak memerangi abdul malik bin marwan.
             Khalifah abdul malik bin marwan dengan segara menyiapkan angkatan perangnya yang terdiri dari laskar syam, mesir dan aljazair. Maka terjadilah pertempuran dasyat diantara kedua belah pihak. Laskar mash’ab mengalami kekalahan, mash’ab sendiri terbunuh di medan pertempuran. Kekalahan besar ini terjadi karena pengkhianatan laskar asal irak yang keluar dari barisan dan menggabungkan diri dengan pasukan abdul malik. Peristiwa ini terjadi pada tahun 72H (692 M).
              Setelah abdul malik mengalami kemenangan di irak itu, ia mengerahkan laskarnya untuk memerangi Abdullah bin zubair di hijaz. Untuk melaksanakan niatnya ini abdul malik mengirimkan panglimanya al-hajjaj bin yusuf ats-saqafi. Panglima ini mengepung kota mekkah sekuat tenaga, sehingga kota itu menyerah dan Abdullah bin zubair pun dapat di bunuh pada tahun 73H.(693 M). setelah peristiwa itu abdul malik mengangkat al-hajjaj menjadi wali atas hijaz,yaman dan yamamah sampai tahun 75 H.
3.Menghadapi kaum khawarij
            Sesudah abdul malik membersihkan syam dan palestina dari kaum pemberontak, ia tidak ragu lagi untuk mengarahkan pasukannya ke daerah masyriq (daerah-daerah di sebelah timur) untuk itu panglima terkenalnya kembali diperintahkan yaitu al-hajjaj bin yusuf ats-tsaqafy. Ia segera berangkat ke kufah, di dalam masjidnya ia berpidato dengan suara yang keras membanggakan dirinya, menyatakan keras perintahnya atas rakyat yang keras kepala. Dari sana ia terus ke basrah, dan dinegeri ini ia melakukan hal yang sama seperti di kufah. Kemudian ia membantu mahlab bin abi sufrah membersihkan irak dan Persia dari kaum khawarij. Al-hajjaj terkenal dalam sejarah karena kekejamannya dan darah dinginnya membunuh sesame manusia.
4.Menghadapi ‘amru bin sa’id
            Pada tahun 70H.(690 M.) seorang dari keluarga abdul malik yang bernama ‘amru bin sa’id mendurhakai khalifah. Pendurhakaan tersebut ditumpas dengan tipu muslihat saja, yaitu dengan mengangkat ‘amru bin sa’id menjadi putera mahkota.akan tetapi tidak lama kemudian di dipanggil meghadap, pengangkatan itu dibatalkan dan ia pun dibunuh, kepalanya dilemparkan kepada pengiringnya ang menunggu dibawah. Menyaksikan peristiwa yang mengerikan itu laskar ‘amru bin sa’id kecil hati dan lari cerai berai. Dengan kematian ‘amru bin sa’id ini selamatlah ia dari bahaya terakhir yang menggerogoti kekuasaannya.
C.Perbaikan yang dilakukan abdul malik
          Setelah abdul malik membersihkan khalifahnya dari para pemberontak, ia segera menghilangkan bekas peristiwa-peristiwa tersebut,iapun mengadakan perbaikan didalam,yang dengan demikian ia dijuluki sebagai pendiri daulat bani umayyah yang kedua. Adapun perbaikan-perbaikan itu ialah:



1.Perbaikan administrasi daulah
           sebelum abdul malik memerintah,mata uang yang beredar dalam masyarakat ialah mata uang Persia dan Byzantium. Hal ini berubah dizaman abdul malik. Ia mendirikan pabrik mata uang di damaskus, pada mata uang tersebut bertuliskan la ilaha illa allah, dan dibaliknya ditulis nam khalifah sendiri.
            Surat-menyurat dalam dewan keuangan yang dulunya dalam bahasa Persia dan romawi diganti dengan bahasa arab, perlakuan ini berlaku di seluruh syam dan Persia. Sedangkan dimesir baru dirubah ke bahasa arab pada masa puteranya walid bin abdul malik.
            Usaha abdul malik yang demikian itu sangat besar pengaruhnya terhadap kemajuan bahasa arab, sehingga ia menjadi bahasa pengetahuan,terutama dalam ilmu hitung dan falak. Seiring dengan itu abdul malik berusaha menghidupkan kegiatan para pujangga dalam memperindah syair dan karangannya. Dia sendiri dikenal sebagai seorang yang ahli pidato yang bijaksanadan penyir yang fasih.
2.memperbaiki pos intelejen
              Ia menyempurnakan system pos intelejen yang sebelumnya telah berjalan, disetiap jarak jauh seperjalanan kuda didirikan tempat pemberhentian.
              Adapun tugas jawatan pos intelejen yang utama ialah mengamati segala pekerjaan para pembesar Negara dan menyampaikan segala kejadian di daerah kepada khilafah.
3.Membentuk mahkamah agung
               untuk memeriksa dan mengadili perkara-perkara pembesar tinggi dan orang-orang yang dipemerintaha, abdul malik membentuk pengadilan agung. Hal ini sengaja didirikan supaya para pembesar Negara yang tertinggi tidak berbuat sekehendak hatinya sendiri kepada rakyat atau kepada bawahannya. Hakim yang mengepalai mahkamah ini adalah seorang ternama dan salah seorang ahli dalam hukum-hukum agama. Siapa saja yang merasa dirinya tertindas oleh para pembesar kerajaan, boleh mengadukan kepada mahkamah itu.

4.Mendirikan bangunan yang megah
             Abdul malik tidak lupa memperbaiki kota-kota dengan mendirikan gedung-gedung yang indah, seperti rumah suci Qubbatu Sakhra di baitul maqdis dan lain-lain. Demikian pun ia mendirikan sebuah Darus Shina’ah di tunis, tempat pembuatan kapal perang dan senjata. Dari sanalah didatangkan berates-ratus kapal untuk angkatan laut daulat bani umayyah.
D.Kematian abdul malik
             Sesudah memerintah selama 21 tahun, abdul malik abdul malik bin marwan wafat di damaskus dalam usia 60 tahun. Dari selama itu kurang lebih delapan tahun dihabiskan untuk memberantas pemberontak dan menghadapi persengkataan dengan Abdullah bin zubair.
             Sebenarnya putera mahkota yang akan menggantika dia ialah abdul aziz, saudaranya sendiri. Akan tetapi abdul aziz terlebih dahulu meninggal. Maka abdul malik mengangkat dua orang puteranya menjadi putera mahkota, yaitu al-walid dan sulaiman.
             Ahli sejarah member gelar abdul malik dengan sebutan ‘abul muluk’, yang artinya ayahanda para raja, karena empat orang dari puteranya menjadi khalifah. Yaitu al-walid,sulaiman,yazid,dan hisyam.
6.Al-walid bin abdul malik (86-96 H.= 705-715 M.)
Zaman keemasan bani umayyah
             zaman khalifah al-walid bin abdul malik adalah zaman keemasan dan kemegahan bani umayyah. Pada zamannya kekuasaan daulat bani umayyah di perluas ke timur dan barat. Ke timur sampai di hindustan dan perbatasan tiongkok dan ke barat sampai di spanyol dan perancis bagian selatan. Di zaman al-walid bin abdul malik inilah peradaban dan kebudayaan islam tumbuh pesat, bangunan-bangunan megah, masjid yang indah juga didirikan seperti masjid raya ‘al-umawy’ di damaskus dan masjid ‘an-nabawy’ di madinah juga diperbaharui.
            Khalifah al-walid juga dikenal dengan khalifah yang penyantun kepada fakir-miskin. Dia sangat memperhatikan keadaan rakyatnya dan senantiasa berusaha meringankan penderitaan rakyat yang melarat. Ini dapat dibuktikan dengan usahanya mendirikan rumah sakit untuk orang yang menderita penyakit kusta dan sebagainya. Ia mendirikan tempat-tempat penginapan yang lengkap dengan penjaganya, menyediakan petunjuk jalan dan menghibur hati bagi orang buta.
Perluasan wilayah di zaman al-walid
Ke daerah timur
          Laskar al-walid yang dipimpin oleh panglima qutaibah bin muslim telah sampai ke seberang sungai jihon dan sungai sihon, menaklukkan negeri Bukhara dan samarkhand, yaitu dua negeri yang terletak di asia tengah dan mayoritas penduduk dari bangsa turki.
          Dengan penaklukkan ini berarti daulat islam meluas sampai pada kerajaan tiongkok.
Ke daerah barat
         Di antara penaklukkan di zaman al-walid bin abdil malik juga adalah daerah maghribil aqsha (barat jauh) yang pada masa sebelumnya ummat islam pernah mendudukinya namun kedudukan disana tidak kokoh karena bangsa barbar slalu memberikan perlawanan. Pada masa inilah al-walid memperkuat kedudukan ummat islam disana.
         Mereka senantiasa menaruh dendam kepada amir arab yang memerintah mereka, karena para amir disana kerap kali mmperlakukan mereka seperti rakyat jajahan, disamping seringnya tentara Byzantium membantu perlakuan mereka.
         Untuk memerintah daerah yang selalu bergejolak itu, khalifah al-walid mengangkat musa bin nushair menjadi wali afrika utara. Berkat usaha al-walid ini maghribil aqsha takluk, musa bin nushair melanjutkan penyiaran agama islam di daerah tepian laut atlantik (selain kota kueta).
Islam merambah eropa
          Daulat islam selalu mengintai peluang yang baik untuk menaklukkan Andalusia (spanyol). Pada tahun 710 sepeninggalan witiza raja gothia barat, singgasananya diduduki oleh panglimanya,roderik. Semua putera witiza bersekutu dengan graf yulian yang juga musuh roderik untuk merebut kembali singgasana ayah mereka.
           Graf yulian meminta bantuan kepada musa bin nushair. Tentu permintaan itu diterima musa, khalifah al-walid menyetujui langkah musa dengan pesan agar berhati-hati dengan graf, kalau permohonan itu hanya tipuan. Musa memerintah perwira thariq bin malik dengan 500 tentara menguasai beberapa pelabuhan dispanyol selatan.  Ternyata thariq mendapat bantuan besar dari graf sehingga mendapat kemenangan. Setelah musa bin nushair semakin yakin ia menyediakan 7000 laska islam yang kebanyakan dari bangsa barbar dibawah pimpinan thariq bin ziad yang ketika itu menjabat gubernur tanger untuk menduduki Andalusia.
Pembebasan Andalusia
          Pada tahun 92 H.(711 M) thariq bin ziad, menyebrang ke Andalusia dengan kapal-kapal yang disediakan oleh graf yulian.
          Sebelum menyebrang ke daratan eropa tersebut thariq bin ziad beserta laskarnya mempersiapkan diri di lereng sebuah gunung, yang sekarang dikenal dengan nama pemimpin itu yaitu jabal thariq, yang juga biasa disebut giblartar, selat yang disebranginyapun diberi nama serupa.
          Sampai disana ia menduduki propinsi selatan gothia barat di semenanjung Iberia dan menguasai beberapa benteng kuat. Dari sana terus maju ke Toledo, ibukota kerajaan gothia.
          Roderik mendatangkan 100.000 tentara untuk menangkis thariq. Meihat musuh yang sangat banyak dan tak seimbang, thariq meminta bantuan tentara kepada musa. Musa mengirim bantuan sebanyak 5000 tentara, maka jumlah laskar islam seluruhnya sebanyak 12000 orang, maka terjadilah perang xerez.
           Dalam perang ini laskar islam gentar lantaran banyaknya musuh, thariq dengan keberaniannya membakar semangat laskarnya dengan khutbahnya yang sangat terkenal: “wahai manusia dengarkanlah, musuh-musuh menghadang dihadapan kalian dan lautan membentang dibelakang kalian, demi allah kalian tidak mempunyai apa-apa kecuali keteguhan dan kesabaran…. Dst”
           Putera witiza membantu thariq, graf yulian membelotkan tentara roderik sehingga mereka terpecah. Disinilah thariq memperoleh kemenangannya yang sangat gemilang, dan berhasil enduduki daerah penting kordova,Granada,Malaga lalu menuju Toledo dan berhasil membunuh roderik.
           Dengan penaklukkan ini islam telah mengadakan perombakan dan perbaikan secara menyeluruh dan besar-besaran, baik dari sistim kenegaraan,strata sosial,ilmu pengetahan dan segala segi kehidupan bermasyarakat.
           Al-walid memerintah selama 9 tahun 7 bulan, ia wafat pada usia 42 tahun 6 bulan. Dimakamkan di damaskus, sepeninggalannya diangkatlah saudara kandungnya sulaiman bin abdul malik sebagai penggantinya.
7.Sulaiman bin abdul malik (96-99 H.=715-717 M.)
Haluan sulaiman bin abdul malik
            Di zaman khalifah bin abdul malik kemewahan mewarnai Negara. Siasatnya sangat berbeda dengan ayahandanya abdul malik dan saudaranya al-walid. Kalau ayahandanya dan saudaranya itu memberikan kepemimpinan Negara dan tentaranya kepada orang-orang besar seperti al-hajjaj,qutaibah,musa dan thariq, maka sulaiman melakukan sebaliknya. Bahkan orang-orang tersebut dipecat dan diganti, dan orang-orang yang bepihak kepada mereka ditangkap dan dipenjarakan.
           Tidak lama setelah memerintah,para tawanan yang di tawan al-hajjaj di irak ditangkap dan hartanya dirampas. Demikian hal tersebut menimpa qutaibah bin muslim penakluk negeri disebrang sungai jihon.
            Sebab murka sulaiman kepada keluarga kedua panglima tersebut adalah karena mereka pernah berusaha untuk memecat sulaiman sebagai putera mahkota sewaktu al-walid masih hidup.
            Nasib lebih mengenaskan dialami oleh musa bin nushair, panglima perang penakluk afrika utara dan Andalusia itu menjadi korban kemurkaannya, sehingga ia dipenjarakan dan mati dalam kemiskinan.
            Sebab murka sulaiman terhadap musa bin nushair adalah Karena sebelum al-walid wafat, sulaiman mengirimkan surat kepada musa bin nushair agar ia tidak datang ke damaskus dan membawa harta rampasan perang sebelum al-walid wafat, dengan maksud agar harta rampasan tersebut jatuh ketangan sulaiman, namun hal itu tidak diindahkan oleh musa bin nushair, ia tetap datang ke damaskus dan membawa harta rampasan perang ketika al-walid masih hidup. Inilah yang membuat sulaiman marah, dan kemarahan itulah yang ia balaskan ketika ia menjadi khalifah dengan kekejaman yang luar biasa.
Pengepungan konstaninopel yang ketiga
           Kota konstantinopel dikepung oleh laskar islam untuk yang ketiga kalinya pada masa pemerintah sulaiman. Sebelum al-walid wafat, ia telah menyiapkan angkatan perang besar untuk menyerang konstantinopel dibawah pimpinan saudaranya maslamah bin abdul malik, usaha ini diteruskan oleh sulaiman.
           Armada islam ketika itu terdiri dari 1700 kapal dan membawa 100.000 tentara. Seorang pangeran Byzantium yang bernama pangeran leo menggabungkan diri kedalam laskar islam yang berada di asia kecil, namun bergabungnya itu mempunyai maksud untuk mendapatkan kembali mahkota Byzantium.
           Laskar islam dari asia kecil itu dapat merebut satu persatu kota-kota di asia kecil, sehingga mereka menyebrang mendekati dinding konstantinopel. Disana mereka bertemu dengan armada angkatan laut dari syam dan mesir, lalu mereka mengepung kota itu bersama-sama.
           Akan tetapi ketika pengepungan berada pada puncaknya, pangeran leo berkhianat dan memaklumkan diri sebagai kaisar Byzantium, lalu ia berbalik memerangi tentara islam. Armada islam dibakarnya sehingga banyak sekali tentara arab yang mati. Mereka kembali ke syam dengan menderita kerugian yang sangat besar.
8.Umar bin abdul aziz (99-101 H=717-720 M)
           Umar bin abdul aziz dipandang ummat islam seperti khalifah umar bin khattab dalam keadilan dan kesalehannya. Hal ini tidak mengherankan, karena sesungguhnya ibu dari umar bin abdul aziz adalah seorang puteri dari ‘ashim bin umar bin al-khattab. Maka ia mewarisi beberapa sifat yang mulia dari kakeknya umar bin khattab, seperti zuhud,wara’,adil dan ahli ilmu agama.
           Karena kepribadian dan siasatnya yang mengikuti khalifah umar bin khattab itulah maka sebagian orang menjulukinya sebagai’khulafa ‘ urrasyidin yang kelima’. Kemuliaan sifat-sifatnya banyak diabadikan dalam kisah-kisah yang menunjukkan sifat sederhana,zuhud,sangat membedakan antara hak pribadi,keluarga,dan Negara,sampai ada riwayat yang mengatakan bahwa pada zaman pemerintahan umar bin abdul aziz tidak ditemukan orang miskin, dan kalau mereka menelusuri keluarga miskin akan ditemukan salah satu keluarga yang merupaka keluarga umar bin abdul aziz sendiri.
             Di zaman khalifah abdul malik dan al-walid dia menjadi wali di hijaz. Ditangannyalah usaha memperbaiki masjid nabawi di madinah dan pemerintahannya berjalan dengan sempurna.
           Ketika ia mendengar wasiat khilafah yang jatuh kepadanya, ia menangis akan berat beban  dan amanat yang ia emban sabagai khalifah. Pada masanyalah perintah penulisan hadist dimulai, karena banyaknya kelompok ummat islam, umar khawatir ummat islam lebih mendengarkan ucapan pimpinan kelompok masing-masing dibandingkan sabbda rasulullah SAW.
Siasat dalam negeri umar bin abdul aziz
           Khalifah umar bin abdul aziz mengganti wali-wali yang diangkat oleh sulaiman dengan orang-orang yang dipandangnya cakap, dan layak untuk mendapatkan jabatan itu. Mereka bertanggung jawab penuh atas kesempurnaan jalannya pemerintahan dalam wilayah mereka masing-masing dihadapan khalifah. Mereka tidak boleh menjatuhkan hukuman mati kepada seseorang sebelum ketetapannya disetujui oleh khalifah.
            Satu diantara bukti keadilan khalifah umar bin abdul aziz adalah sikapnya yang menyama-ratakan hadiah dan pemberian kepada ummat islam, dengan tidak ada perbedaan antara satu dengan yang lain. Ia berusaha memperbaiki hubungan antara bani umayyah dengan keturunan ali bin abi thalib beserta golongan syi’ah. Dahulu sejak tahun 41H. ketika hasan bin ali menyatakannya berhenti dari kursi khalifah dan menyerahkannya kepada mu’awiyah, nama ali bin abi thalib selalu dicela diatas mimbar saat bani umayyah berpidato. Maka sejak umar bin Abdul aziz memerintah pada tahun 99 H. Ia tidak lagi pidato yang menjelekkan keluarga ali bin abi thalib.
Siasat khalifah umar bin abdul aziz
            khalifah umar bin abdul aziz menjauhkan diri dari penaklukkan negeri-negeri. Angkatan perang islam yang sedang mengepung konstantinopel dipanggil pulang ke damaskus. Minatnya dihadapkan pada perluasan agama islam. Beberapa orang mubaligh dikirim menghajat para raja hindu dan sind menyeru mereka kedalam islam. Mereka tidak diwajibkan membayar upeti dan kemerdekaan mereka tidak diganggu. Hal yang seperti itu juga dilakukan kepada raja-raja turki   dan amir barbar di afrika.
           Siasat khalifah umar bin abdul aziz yang sedemikian justru besar pengaruhnya, sehingga raja-raja hindu dengan tulus mereka memeluk agama islam.
Kematian umar bin abdul aziz
           Ia memerintah hanya dua tahun dua bulan lamanya, namun namanya harum semerbak sepanjang masa, karena sifat-sifatnya yang mulia, seperti halnya para khulafairrasyidin, sebagian orang menjulukinya sebagai khulafairrasyidin yang kelima. Khalifah yang budiman itu wafat pada tahun 101 H. (720 M.) pada usia 39 tahun, dengan tidak mewasiatkan pangkat khalifah kepada puteranya.
9.Yazid bin abdul malik (101-105 H.=720-724 M.)
          Pada permulaan pemerintahan yasid bin abdul malik mengikuti jejak khalifah umar bin abdul aziz. Akan tetapi yang demikian itu hanya sebentar. Tidak lama kemudia timbul dari tindakannya yang menyebakan kekalukan dalam kerajaan.
            Sendi kedaulaan bani umayyah mulai goyah, di jazirah arab terjadi huru-hara dan pemberontakan.
            Yazid bin mahlab bekas panglima dan amir di masyrik yang dipenjara di zaman umar bin abdul aziz dapat melarika diri dari penjara ketika umar bin abdul aziz wafat. Ia mengadakan pemberontakan, wali basrah itu di tawan, kufah juga ditaklukkan sehingga ia banyak dapat pengikut dari dua daerah itu.
             Setelah besarnya ancaman bahaya yang datang dari yazid bin mahlab, khalifah mengarahkan tentaranya dibawah pimpinan maslamah bin abdul malik. Tapi walaupun maslamah dapat membunuh yazid bin mahlab dan mengalahkan para pengikutnya, namun pengaruhnya sangat besar bagi daulat bani umayyah.
             Dizaman khalifah yazid inilah keluarga bani abbas mulai menghimpun kekuatan di khurrasan pada tahun 103 H(722 M). keluarga inilah yang nantinya akan meruntuhkan kekuasaan bani umayyah. Pada masa yazid ini pula lahir seorang bernama abul abbas assafah (penumpah darah), yaitu khalifah pertama dari keluarga bani abbas.
            Khalifah yazid wafat pada tahun 105 H.(724 M). pada usia 40 tahun. Pemerintahannya hanya 4 tahun 1 bulan ini diwarnai dengan kemewahan dan huru-hara.
10.Hisyam bin abdul malik (105-125 H = 724-743 M)
            Hisyam bin abdul malik ditetapkan sebagai khalifah di hari wafatnya yazid pada tahun 105 H (724 M). dia seorang khalifah yang bijaksana,mulia,budiman dan perkasa. Ia dikenal sebagai seorang negarawan yang pandai, mempuyai ketelitian dan pandangan yang tajam. Pernah ada yang mengatakan bahwa negarawan yang pandai dizaman bani umayyah adalah mu’awiyah,abdul malik dan hisyam.
Pemberontakan di kufah
            pada zaman pemerintahannya ini timbul pemberontakan dari kelompok zaidiyah yang dikepalai oleh zaid bin ali zainul abidin, keturunan ali bin abi thalib, ia menyeru orang kufah untuk membaiatnya sebagai khalifah, pengikutnya kurang lebih sebanyak 15000 orang.
            Namun pemberontakan kelompok zaidiyah ini dapat dipadamkan oleh amir kufah yusuf bin Muhammad. Pengikut zaid banyak yang lari meninggalkannya, dan dengan tentara yang tidak seberapa banyaknya zaid meneruskan perlawanannya hingga ia mati terbunuh dalam perang melawan amir kufah itu pada tahun 122 H. Seorang putera zaid yang bernama yahya dapat melarikan diri ke khurassan, ia menetap disana selama 3 tahun.
           Penduduk khurasan membaiatnya sebagai khalifah, dan kemudian melakukan perlawanan terhadap khalifah hisyam bin abdul malik, namun nasibnya tidak jauh berbeda dengan ayahnya, ia mati terbunuh dalam pertempuran.
Penaklukkan dizaman hisyam
           Zaman hisyam adalah zaman banyak penaklukan, ia tidak berhenti memerangi orang Byzantium di perbatasan siria dan asia kecil serta orang turki di kaukasia. Panglima tentaranya dari keluarga bani umayyah sendiri.
           Di zaman hisyam bin abdul malik ini juga laskar arab yang di andalus menyerbu masuk tanah perancis, mereka sampai ke kota tours di perancis selatan. Semula laskar islam mengalami kemenangan atas kecerdikan panglimanya Abdurrahman al-ghafiqy.
           Akan tetapi cahaya mereka mulai pudar dikala dimusim dingin memasuki kota tours dan poitiers,Abdurrahman kalah besar, laskarnya cerai berai diserbu laskar karel martel, pahlawan terkenal prancis. Dengan kekalahan itulah benua eropa terlepas dari kekuatan laskar islam.
Perbaikan di zaman hisyam
           Khalifah hisyam bin abdul malik sangat mementingkan kemakmuran kerajaannya. Untuk pengairannya ia memerintahkan penggalian beberapa sungai, terutama ditempat-tempat sepanjang jalan ke madinah. Di zamannya didirikan kerajinan sutera, diperbanyak pabrik senjata dan pabrik pembuat pakaian tentara.
           Hisyam seorang yang gemar memelihara kuda pacuan dan dialah khalifah yang pertama kali mengadakan tempat pacuan kuda.
           Diantara kekurangan hisyam bin abdul malik ialah sikapnya terhadap kaum ‘alawiyyin, dimana ia sering menindas dan berlaku kasar atas mereka.
B.Pendidikan di zaman bani umayyah
          dapat diketahui bahwa situasi politik,sosial dan keagamaan memiliki kaitan yang erat dengan masalah pendidikan. Adanya wilayah yang luas dan penduduk yang makin besar selain membutuhkan sandang,pangan dan papan, juga membutuhkan keamanan,kesehatan dan juga pendidikan. Berbagai sumber menyebutkan keadaan pendidikan di zaman bani umayyah sebagai berikut:
1.                  Visi,misi,tujuan, dan sasaran
            Visi pendidikan di zaman bani umayyah secara eksplisit tidak dijumpai. Namu dari berbagai buku dapat kita ketahui bahwa visinya adalah unggul dalam ilmu agama dan umum sejalan dengan kebutuhan zaman dan masing-masing wilayah islam.
Adapun misinya antara lain :
a.       Menyelenggarakan pendidikan agama dan umum secara seimbang
b.      Melakukan penataan kelembagaan dan aspek-aspek pendidikan islam
c.       Memberikan pelayanan pendidikan pada seluruh wilayah islam secara adil dan merata
d.      Menjadikan pendidikan sebagai penopang utama kemajuan wilayah islam
e.       Memberdayakan masyarakat agar dapat memecahkan masalahnya sesuai dengan kemampuannya sendiri.
              Adapun tujuannya ialah menghasilkan sumber daya manusia yang unggul secara seimbang dalam ilmu agama dan umum serta mampu menerapkannya bagi kemajuan wilayah islam
              Sedangkan yang menjadi sasarannya adalah seluruh ummat atau warga yang terdapat di seluruh wilayah islam, sebagai dasar bagi dirinya dalam membangun masa depan yang lebih baik.
             Visi, misi,tujuan, dan sasaran pendidikan tersebut, secara eksplisit atau tertulis tentu belum ada. Namun bagi segi kebijakannya secara umum serta hasil-hasil yang dicapai oleh bani umayyah mengandung visi, misi, tujuan, dan sasaran.
              Sejarah mencatat, bahwa pada masa dinasti bani umayyah telah dilakukan hal-hal sebagai berikut:
a.       Melakukan pemisahan antara kekuasaan agama dan kekuasaan politik, sehingga terjadi secara dikotomi, namun bukan dalam hal ilmu agama dan ilmu umum.
b.      Melakukan pembagian kekuasaan kedalam bentuk provinsi, yaitu syiria dan palestina,kufah,irak,basrah,Persia,sijistan,khurrasan,Bahrain,oman,najd,yaman,armenia,hijaz,karman, dan india,mesir,afrika,yaman,arab selatan,serta Andalusia.
c.       Membentuk orgnisasi dalam lembaga-lembaga pemerintahan dalam bentuk departemen, seperti dewan al-kahawarij yang mengurusi pajak, dewan rasail yang mengurusi pos, dewan musghilatyang menangani kepentingan umum, dan dewan al-hatim yang menangani dokumen Negara.
d.      Membentuk organisasi keuangan yang terpusat pada baitul mal yang diperoleh dari pajak tanah,perorangan,dan nonmuslim, serta mencetak mata uang.
e.       Membentuk organisasi kehakiman.
f.       Membentuk organisasi ketentaraan yang umumnya terdiri dari orang-orang keturunan arab.
g.      Membentuk lembaga sosial dan budaya.
h.      Membentuk bidang seni rupa seperti seni ukur, seni pahat dan kaligrafi.
i.        Membentuk lembaga arsitektur, sebagaimana terlihat pada arsitektur kubah al-sakhra di baitul maqdis, yaitu kubah batu yang didirikan pada masa khalifah abdul malik bin marwan pada tahun 691 M.
             Terjadinya berbagai kemajuan tersebut dipastikan karena didukung oleh tersedianya sumber daya manusia yang memiliki pengetahuan,keterampilan, keahlian teknis, dan pengalaman yang dihasilkan melalui proses pendidikan dalam arti luas. Sejarah mencatat bahwa disam[ing melakukan ekspansio territorial, pemerintah dinasti umayyah juga menaruh perhatian dalam bidang pendidikan. Memberikan dorongan yang kuat dalam kemajuan dunia pendidikan dengan menyediakan sarana dan prasarana. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar para ilmuan, seniman, para ulama dapat mengembangkan bidang keahliannnya masing-masing serta mampu melakukan kaderisasi.
2.                  Kurikulum
            Pada masa bani umayyah terdapat dua jenis pendidikan yang berbeda system dan kurikulumnya, yaitu pendidikn khusus dan pendidikan umum. Pendidikan khusus adalah pendidikan yang diselenggarakan dan diperuntukkan bagi anak-anak khalifah dan anak-anak pembesarnya. Kurikulumnya diarahkan untuk memperoleh kecakapan memegang kendali pemerintahan, atau hal-hal yang ada sangkut pautnya dengan keperluan dan kebutuhan pemerintahan,. Tempat pendidikannya di istana dan guru-gurunya ditunjuk dan diangkat oleh khalifah dengan mendapatkan jaminan hidup. Sedangkan khusus adalah pendidikan yang diperuntukkan bagi rakyat biasa. Pendidikan ini merupaka kelanjutan dari pendidikan yang telah ada dari zaman nabi masih hidup, ia merupakan sarana yang sangat penting bagi kehidupan agama. Karena ia merupakan kelanjutan dari pendidikan sebelumnya, maka kurikulum yang digunakanpun sama dengan kurikulum sebelumnya. Yang bertanggung jawab atas kelancaran atas pendidikan ini adlah para ulama, merekalah yang memikul tugas mengajar dan membimbing rakyat. Mereka bekerja atas dasar dorongan moral serta tanggung jawab agama, bukan atas dsar penunjukan dan pengangkatan oleh pemerintah. Karena itu mereka tidak memperoleh jaminan hidup dari pemerintah.
              Kurikulum pendidikan pada dinasti bani umayyah adalah:
a.       Ilmu agama: al-qur’an, hadist, dan fiqih. Sejarah mencatat bahwa pada masa khalifah umar bin abduk aziz dilakukan proses pembukuan hadist, sehingga studi hadist mengalami pengembangan yang pesat.
b.      Ilmu sejarah dan geografi, yaitu segala ilmu yang membahas tentang perjalanan hidup,kisah, dan riwayat
c.       Ilmu pengetahuan bidang bahasa, yaitu segala ilmu yang mempelajari segala tantang bahasa, nahwu, sorf.
d.      Filsafat, yaitu segala ilmu yang pada umumnya berasal dari bahasa asing seperti ilmu matntik,kimia,astronomi,ilmu hitung, dan ilmu yang berhubungan dengan ilmu kedokteran
3.                  Kelembagan
             Lembaga-lembaga pendidikan yang berkembang pada zaman bani umayyah, selain masjid,kuttab, dan rumah sebagaimana yang telah ada sebelumnya, juga ditambah dengan lembaga pendidikan seperti istana,badiah,perpustakaan,al-bimaristan dan majelis sastra
a.       Istana
Pendidikan di istana bukan saja mengajarkan ilmu pengetahuan umum,melainkan juga mengajarkan tentang kecerdasan,jiwa,dan raga anak.
b.      Badiah
Lembaga pendidikan badiah ini muncul seiring dengan kebijakan pemerintah bani umayyah untuk melakukan program arabisasi yang digagas oleh khalifah abdul malik bin marwan. Secara harfiah badiah berarti dusun badui di oadang sahara yang didalamnya terdapat bahasa arab yang masih fasih dan murni sesuai dengan kaidah bahasa arab.
c.       Perpustakaan
Perpustakaan tumbuh dan berkembang seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan serta kegiatan penelitian dan penulisan karya ilmiah. Pada pendidikan dan pengajaran yang berbasis penelitian, perpustakaan memegang peranan yang sangat penting. Ia menjadi jantung sebuah lembaga pendidikan.



d.      Al-bimaristan
Al-bimaristan adalah rumah sakit serta berfungsi sebagai tempat melakukan magang dan penelitian bagi calon dokter. Dimasa sekarang al-baristan dikenal dengan istilah teaching hospital (rumah sakit pendidikan)
e.       Kuttab
Anak memerlukan pendidikan dan pelajaran yang lebih intensif agar memperoleh hasil yang diharapkan, tertib dan teratur. Cara demikian tidak mungkin dilakukan dirumah. Karena itu diperlukan tempat dan ruang khusus di luar rumah.
Menempatkan anak-anak belajar dimasjid, akan menimbulkan kegaduhan orang lain yang sedang melaksanakan ibadahnya. Selain itu kebersihan masjid pun tidak terjamin. Sifat dari pada anak-anak adalah aktif selalu bergerak tanpa menghiraukan keadaan sekelilingnya.
Jalan keluar dari kesulitan ini adalah mendirikan ruangan khusus diluar rumah dan di luar ruangan masjid. Tempat elajar anak-anak ini lalu disebut kuttab.
Dalam perkembangan selanjunya kuttab ini mengalami perubahan-perubahan dan perkembangan bentuk serta system organisasinya. Akan tetapi bentuk kuttab yang pertama masih tetap menjalankan fungsinya yang semula, dengan guru-gurunya terdiri dari orang-orang dzimmi yang mengajar menulis dan membaca. Kuttab ini mulai muncul pada zaman al-hajjaj ibnu yusuf ats-tsaqafi. Dalam kuttab ini anak-anak mulai menghafal al-qur’an secara teratur karena ia merupakan sumber kehidupan keagamaan dan dasar pembinaan yang dibutuhkan oleh setiap muslim. Menurut Prof,Dr,A Salabi “kuttab dari jenis ini sebagai suat rumah perguruan untuk umum, adalah hasil perkembangan darihasil pendidikan putera raja-raja dan pembesarnya”.
f.       Masjid
Mesjid sangat erat hubungannya dengan sejarah pendidikan islam, ia merupakan suatu lembaga pendidikan islam sejak awal dibangun oleh nabi Muhammad SAW. Dari masjid dikumandangkan seruan iman,taqwa,akhlaq dan ajaran-ajaran kemasyarakatan: aik yang berhubungan dengan individu kenegaraan maupun yang berhubungan dengan sosial ekonomi dn sosial budaya yang adil dan beradap serta diridhai allah SWT.
Pernan masjid sebagai pusat pendidikan dan pengajaran senantiasa terbuka lebar bagi setiap orang yang merasa dirinya mampu dan cakap untuk memberikan atau mengajarkan ilmu pengetahuan.setelah pelajaran anak-anak di kuttab berakhir, mereka melanjutkan pendidikannya ketingkat menengah yang dilakukan di masjid. 
Dalam masjid terdapat dua tingkatan sekolah : tingkat menengah dan tingkat perguruan tinggi. Pelajaran yang diberikan pada tingkat menengah dilakukan secara perseorangan. Sedangkan pada tingkat perguruan tinggi dilakukan pada tingkat halaqah, murid duduk bersama mengelilingi gurunya yang memberikan pelajaran pada mereka. Ditingkat menengah diberikan pelajaran al-qur’an dan tafsir,hadist, dan fiqih. Sedangkan pada tingkat perguruan tinggi diberikan pelajaran tafsir, hadist,fiqih, dan syari’at islam.
g.      Majelis sastra
Majelis sastra adalah perkembangan yang dari masjid yang biasa dilakukan oleh para khulafaur rasyidin bersama para sahabat lainnya untuk bermusyawarah dan berdiskusi tentang masalah-masalah yang memerlukan penyeselaian secara tuntas. Dalam majelis ini para sahabat mempunyai kebebasan yang penuh dalam mengemukakan kritikan-kritikan dan pendapat mereka
Musyawarah dan diskusi mengandung unsure pendidikan yang meliputi penggunaan dan pengendalian akal pikiran serta perasaan dan tata tertib berdasarkan ketentuan-ketentuan atau dalil-dalil yang berlaku. Selain itu dalam majelis ini juga terjadi proses transformasi ilmu pengetahuan, permasalahan yang dikemukakan dan hasil pemecahannya kepada peserta.
4.      Pendidik
Pendidik ialah seorang yang tugasnya selain mentransfer ilmu pengetahuan dan nilai-nilai kepada peserta didik, juga menumbuhkan,membina,dan mengembangkan bakat,minat,dan seganap potensi yang dimiliki peserta didik,sehingga menjadi actual dan terperdaya secara optimal.
5.      Sarana dan prasarana.
Sarana dapat diartikan sebagai sesuatu yang secara langsung maupun tidak langsung dapat digunakan dalam mendukung terlaksananya berbagai kegiatan. Dalam kegiatan pendidikan, sarana yang diperlukan antara lain gedung sekolah, perpustakaan, tempat praktekum, sumber-sumber bacaan, peralatan laboratorium, peralatan praktikum, peralatan mengajar dan belajar. Adapun yang termasuk prasarana antara lain halaman masjid, lapangan olahraga, tempat parker, tempat istirahat, kantin dan sebagainya.
6.      Pembiayaan
Pembiayaan pendidikan diartikan sebagai usaha menyediakan sumber dana, system pengelolaan dan penggunaannya untuk berbagai kegiatan, termasuk pendidikan, pembiayaan yang diperlukan untuk mengadakan auat membeli segala hal yang dibutuhkan untuk pendidik, seperti untuk membangun gedung sekolah, perpustakaan, dan lain-lain.
7.      Pengelolaan
Pengelolaan pendidikan dapat diartikan sebagai kegiatan merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan, mengawasi, membina, dan menilai hal-hal yang berkaitan dengan seluruh aspek pendidikan: kurikulum, proses belajar mengajar, hasil pembelajaran, kinerja para guru dan staf pelayanan administrasi pendidikan, dan respon masyarakat merupakan suatu yang dinamis dan mudah dipengaruhi oleh berbagai faktordan keadaan.
8.      Lulusan
Para lulusan pendidikan dapat diartikan mereka yang telah tamat mengikuti pendidikan pada jenjang tertentu yang selanjutnya mendapat gelar atau sebutan yang menunjukkan keahliannya,dan memiliki otoritas atau kepercayaan untuk mengajarkan ilmunya. Para lulusan pendidikan di zaman bani umayyah ini terdiri dari para tabi’in yaitu mereka yang hidup dan berguru kepada sahabat nabi, atau generasi kedua setelah sahabat. Dengan demikian, hubungan mereka dengan rasulullah terletak pada hubungan mission, gagasan, cita-cita, dan semangat, dan bukan pada hubungan persahabatan atau perawakan. Diantara para tabi’in tersebut, walaupun tidak sempat berjumpa dan berguru dengan nabi Muhammad SAW, namun visi,misi, tujuan perjuangannya tidak berbeda dengan yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW, bahkan diantara para tabi’in tersebut ada yang masih memiliki keturunan dengan nabi Muhammad SAW.
C.Sistem pemerintahan dinasti bani umayyah
Sejalan dengan watak dan prinsip muawiyah tersebut serta pemikirannya yang perspektif dan inovatif, ia membuat berbagai kebijaksanaan dan keputusan politik dalam dan luar negeri. Dan jejak ini diteruskan oleh para penggantinya dengan menyempurnakannya.
Pertama. Pemindahan pusat pemerintahan dari madinah ke damaskus. Keputsan ini didasarkan pada pertimbangan politik dan alasan keamanan. Karena letaknya jauh dari kufah pusat kaum syiah yang merupakan para pendukung ali. Dan jauh dari hijaz tempat tinggal mayoritas bani hasyim, sehingga bisa terhindar dari konflik yang lebih tajam antara dua bani itu dalam memperebutkan kekuasaan. Lebih dari itu, damaskus yang terletak di daerah syam (suria) adalah daerah yang berada di daerah genggaman pengaruh muawiyah selama 20 tahun sejak ia diangkat menjadi gubernur di distrik itu sejak zaman khalifah umar bin khattab.
Kedua. Muawiyah memberi penghargaan kepada orang-orang yang berjasa dalam perjuangannya mencapai pundak kekuasaan. Seperti amr bin ash ia angkat kembali mejadi gubernur mesir, Al-mughirah bin syu’bah juga ia diangkat menjadi gubernur di wilayah Persia. Ia juga mempermalukan dengan baik dan mengambil baik para sahabat terkemuka yang bersikap netral terhadap berbagai kasus yang ditimbulkan waktu itu, sehingga mereka berpihak kepadanya.
Ketiga. Menumpas orang-orang yang berposisi yang dianggap berbahaya jika tidak bisa dibujuk dengan harta dan kedudukan, dan menumpas kaum pemberontak. Ia menumpas kaum khawarij yang merongsong wibawa kekuasaannya dan mengkafirkannya. Golongan ini menuduhnya tidak mau berhukum kepada al-qur’an dalam mewujudkan perdamaian dengan ali diperang shiffin melainkan ia mengikuti ambisi hawa nafsu politiknya.
Keempat. Membangun kekuatan militer yang terdiri dari tiga angkatan , darat, laut, dan kepolisian yang tangguh dan loyal. Mereka diberi gaji yang cukup, dua kali lebih besar dari pada yang diberikan umar kepada tentaranya. Ketiga angkatan ini bertugas menjamin stabilitas keamanan dalam negeri dan mendukung kebijaksaan politik luar negeri yaitu memperluas wilayah kekuasaan.
Kelima. Meneruskan wilayah kekuasaan islam baik ke timur maupun ke barat. Perluasan wilayah ini diteruskan oleh para penerus mu’awiyah, seperti khalifah abdul malik ke timur, khalifah al- walid ke barat, dan ke prancis di zaman khalifah umar bin abdul aziz. Perluasan wilayah dizaman dinasti ini merupakan ekspansi besar kedua setelah ekspansi besar pertama dizaman umar bin khattab. Daerah-daerah yang dikuasai ummat islam dizaman dinasti ini meliputi spanyol, afrika utara, suria, palestina, semenanjung Arabia, irak, sebagian asia kecil, Persia, afganistan, daerah yang sekarang disebut Pakistan, rukmenia, uzbek, dan kigris di asia tengah dan pulau-pulau yang terdapat di laut tengah, sehingga dinasti ini berhasil membangun Negara besar di zaman itu. Bersatunya berbagai suku bangsa dibawah naungan islam melahirkan benih-benih peradaban baru yang bercorak islam, sekalipun bani umayyah lebih memusatkan perhatiannya kepada pengembangan kebudayaan arab. Benih-benih peradaban baru itu kelak berkembang pesat di zaman dinasti abbasiyah sehingga dunia islam menjadi pusat peradaban dunia selama beranad-abad.

Keenam. Baik muawiyah maupun para penggantinya membuat kebijaksanaan yang berbeda dari zaman khulafa al-rasyidin. Meraka merekrut orang-orang non muslim sebagai pejabat-pejabat dalam pemerintahan, seperti penasehat, administrator, dokter dan dikesatuan-kesatuan tentara, tapi dizaman umar bin abdul aziz kebijaksanaan itu dihapuskan. Karena orang-rang non mslim yang memperoleh privilege di dalam pemerintahan banyak merugikan kepentingan ummat islam bahkan menganggap rendah mereka. Di dalam al-qur’an memang terdapat peringatan-peringatan yang tidak membolehkan orang-orang mukmin merekrut orang-orang non-muslim sebagai teman kepercayaan dalam mengatur urusan orang-orang mukmin.
Ketujuh. Mu’awiyah mengadakan pembaharuan dibidang administrasi pemerintahan dan melengkapinya dengan jabatan-jabatan baru yang dipengaruhi oleh kebudayaan Byzantium
Kedelapan. Kebijaksanaan dan keputusan politik penting yang dibuat oleh oleh khalifah muawiyah adalah mengubah sistem pemerintahan dari bentuk khalifah yang bercorak demokratis menjadi system monarki dengan mengangkat puteranya, yazid, menjadi putera mahkota untuk menggantinya sebagai khalifah sepeninggalannya nanti. Ini berarti suksesi kepemimpinan berlangsung secara turun temurun yang diikuti oleh para penggantinya muawiyah. Dengan demikian ia mempelopori untuk meninggalkan teradisi dizaman khulafa al-rasyidin dimana khilafah ditetapkandengan pemilihan oleh ummat. Lebih dari itu mu’awiyah telah melanggar asas musyawarah yang diperintahkan melalui al-qur’an agar segala urusan diputuskan melalui musyawarah.
Karena itu keputusan politik mu’awiyah ini mendapat protes dari ummat islam golongan syi’ah, pendukung ali, abd al-rahman bin abi bakar, husein bin ali, dan Abdullah bin zubair. Bahkan kalangan tokoh masyarakat madinah mengadakan dialog dengan mu’awiyah. Merka menyarankan agar ia mengikuti jejak rasulullah atau abu bakar dan umar dalam urusan khalifah, tidak mendahulukan kabilah dari ummat. Mu’awiyah tidak menggubris saran ini sama sekali. Alasan yang dikemukakan adalah karena ia khawatir akan timbul kekacauan, dan akan mengancam stabilitas keamanan kalau ia tidak mengangkat putera mahkota sebagai penggantinya.
Keputusan ini direkayasa oleh mu’awiyah seakan-akan mendapat dukungan dari para pejabat penting pemerintah. Ia memanggil para gubernur datang ke damasks agar mereka membuat semacam “kebulatan tekad” mendukung keputusannya. Ia meminta salah seorang gubernur yang bernama al-dhahhak bin qais al-fahri agar, setelah mu’awiyah berpidato dan member nasehat dalam suatu pertemua, minta izin berbicara dengan memuji allah dan menyatakan, yazid adalah orang yang pantas menduduki khalifah setelah mu’awiyah. Kepada para gubernur lain diminta oleh mu’awiyah agar membenarkan ucapan dhahhak. Mereka memenuhi perintah itu, kecuali gubernur ahnaf bin qais.
Walaupun mu’awiyah mengubah system pemerintahan menjadi monarki, namun dinasti ini tetap memakai gelar khalifah. Bahkan mu’awiyah menyebut dirinya sebagai amir al-mu’minin. Dan status jabatan khalifah diartikan sebagai “wakil allah”dalam memimpin ummat dengan mengaitkannya kepada al-qur’an (surat al-baqarah ayat 30). Atas dasar ini dinasti menyatakan bahwa keputusan-keputusan khalifah didasarkan atas perkenaan allah. Siapa yang menentangnya adalah kafir.
D.Ciri-ciri system pemerintahan dinasti umayyah    
Ciri-ciri khusus yang membedakan dari praktek pemerintahan khulafaur al-rasyidin dan pemerintahan dinasti umayyah. Ciri-cirinya adalah : unsure pengikat bangsa pada kesatuan lebih ditekankan pada kesatuan politik dan ekonomi, khalifah adalah jabatan sekuler dan berfungsi sebagai kepala pemerintahan eksekutif, kedudukan khalifah masih mengikuti tradisi kedudukan syaikh arab, dan kerena itu siapa saja boleh bertemu langsung dengan khalifah untuk mengadukan haknya, dinasti ini lebih mengarahkan kebijaksanaan dan perluasan kekuasaan politik atau perluasan wilayah kekuasaan wilayah Negara, dinasti ini bersifat ekslusif kare lebih mengutamakan orang-orang berdarah arab duduk dalam pemerintahan, orang-orang non arab tidak mendapat kesempatan yang sama luasnya dengan orang-orang arab, dan qadhi mempunyai kebebasan dalam menentukan perkara. Disamping ini dinasti tidak meninggalkan unsure agama dalam pemerintahan. Formalitas tetap dipatuhi dan terkadang menampilkan citra dirinya sebagai pejuang islam. Cirri lain dinasti ini kurang meaksanakan musyawarah. Karenanya kekuasaan khalifah mulai bersifat absolute walaupun belum begitu menonjol. Dengan demikian tampilnya pemerintahan dinasti umayyah yang mengambil bentuk monarki merupakan babak kedua dari prakteknya pemerintahan ummat islam dalam sejarah.
E.Masa kemunduran dan kerutuhan bani umayyah.
Sepeninggalan umar bin abdul aziz yang dikenal dengan sufinya bani umayyah, kekuasaan dinasti umayyah dilanjutkan oleh yazid bin abdul malik. Masyarakat yang sebelumnya hidup dalam ketentraman dan kedamaian, pada masa itu berubah menjadi kacau. Dengan latar belakang dan kepentingan etnis politi, masyarakat menyatakan konfrontasi terhadap pemerintah yazid bin abdul malik yang cenderung kepada kemewahan dan kurang memperhatikan kehidupan rakyat. Kerusuhan terus berlanjut hingga masa pemerintahan khalifah berikutnya, hisyam bin abdul malik. Bahkan pada masa ini muncul kekuatan baru yang dikemudian hari menjadi tantangan berat bagi pemerintahan bani umayyah. Kekuatan itu berasal dari kekuatan bani hasyim yang didukung oleh golongan mawali. Walaupun sebenarnya hisyam bin abdul malik adalah seorang khalifah yang kuat dan terampil. Akan tetapi, karena gerakan oposisi ini semakin kuat, sehingga tidak berhasil dipandamkannya.
Akhirnya, masa keemasan dinasti umayyah berakhir pada masa hisyam bin abdul malik, anak keempat abdul malik. Anak keempat abdul malik. Oleh pakar arab, hisyam bin abdul malik dipandang sebagai negarawan ketiga dalam dinasti umayyah setelah mu’awiyah dan abd al-malik. Diriwayatkan bahwa gubernur di irak, Khalid bin abdillah al-qasri yang dibawah pimpinannya daerah itu makmur, terutama karena pembangunan teknik dan saluran air yang dikerjakan oleh hasan al-nabathi, menggelapkan kelebihan pendapatan Negara sebesar 13 juta dirham dengan cara memotong pemasukan Negara tiga kali lipat dari jumlah itu. Akhirnya Khalid bin abdillah al-qasri ditangkap pada tahun 738 M, dipenjara, disiksa, dan diharuskan mengganti uang Negara. Kasus itu hanyalah satu gambaran tentang penyimpangan administrasi dan korupsi dalam pemerintahan bani umayyah yang menyebabkan keruntuhan.
Sejarawan arab sangat memuji hisyam bin abdul malik. Dan empat penggantinya kecuali marwan bin Muhammad yang menjadi khalifah terakhir bani umayyah, terbukti tidak cakap, atau bisa dikatakan tidak bermoral dan bobrok. Bahkan para khalifah sebelum hisyam bin abdul malik pun, yang dimulai oleh yazid bin mu’awiyah, lebih suka berburu, pesta minuman, tenggelam dalam musik dan puisi, ketimbang membaca al-qur’an atau mengurus persoalan Negara. Perilaku buruk kelas penguasa hanyalah gambaran kecil dari kebobrokan moral yang bersifat umum. Buruknya peradaban teutama menyangkut minuman keras, perempuan dan nyanyian. Telah menjangkiti para putera gurun.
Dari uraian diatas, dapat dikatakan bahwa banyak sekali hal-hal yang memberikan kontribusi terhadap keruntuhan bani umayyah. Namun secara garis besar dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1)      Potensi perpecahan antara suku, etnis dan kelompok politik yang tumbuh semakin kuat, menjadi sebab utama terjadinya gejolak politik dan kekacauan yang menggangu stabilitas Negara.
2)      Adanya permasalah suksesi kepemimpinan. Tidak adanya aturan yang pasti dan tegas tentang peralihan kekuasaan secara turun temurun mengakibatkan gangguan serius ditingkat Negara.
3)      Sisa-sisa kelompok pendukung khalifah ali bin abi thalib yang umumnya adalah kaum syi’ah dan kelompok khawarij terus aktif menjadi gerakan oposisi, baik secara terbuka maupun secara tersembunyi. Tentu saja gerakan oposisi ini sangat berpengaruh sekali terhadap stabilitas pemerintahan dinasti umayyah
4)      Sebagian besar golongan mawali (non arab), terutama diirak dn wilayah bagian timur lainnya, merasa tidak puas dengan kebijaksanaan pemerintah dinasti umayyah. Karena status tersebut menggambarkan inferioritas di tengah-tengah keangkuhan bangsa arab. Mereka tidak mendapat fasilitas dari penguasa dinasti bani umayyah  sebagaimana yang diperoleh oleh orang-orang islam arab.
5)      Sikap hidup mewah dilingkungan istana merupakan salah satu faktor lemahnya pemerintahan dinasti umayyah, sehingga keturunan dinasti umayyah tidak sanggup memikul beban berat kenegaraan ketika mereka mewarisi kekuasaan.
6)      Penyebab langsung tergulingnya kekuasaan dinasti bany umayyah adalah munculnya kekuatan baru yang dipelopori oleh keturunan al-abbas bin abdul muthalib. Gerakan ini sepenuhnya memperoleh dukungan dari bani hasyim dan kubu syi’ah serta golongan mawali yang merasa dianggap sebagai masyarakat kelas dua oleh pemerintah dinasti bani umayyah.
7)      Pengkhianatan atas diri ali bin abi thalib
8)      Melanggar janji dengan hasan bin ali yaitu dengan mengangkat yazid sebagai putera mahkota dinasti bani umayyah
9)      Ta’asub jahiliyyah dengan cara menghidupkan kembali faham kebangsaan dimasa jahiliyyah, yaitu paham kebangsaan yang sempit yang mana paham tersebut tidak diizinkan oleh ummat islam.
10)  Pengangkatan dua putera mahkota juga buruk akibatnya. Putera mahkota yang lebih dahulu menduduki singgasana khalifah, berusaha memecat saudaranya dan melantik puteranya sendiri. Hal ini menimbulkan perpecahan dalam tubuh keluarga bani umayyah. Kemudian khalifah yang baru membalaskan dendamnya kepada siapa saja yang membantu singgasananya. Oleh karena itu perhatian dan simpati rakyat menjadi pudar. Mereka senantiasa menunggu kedatangan seorang pemimpin yang akan mempersatukan mereka untuk membalaskan dendam kepada keluarga bni umayyah. Di saat demikian abu muslim muncul membawa suara baru dan janji perbaikan, dibawah bendera bani abbas.



























Bab tiga
Kesimpulan dan saran
A.   Sejarah dinasti bani umayyah
bani umayyah adalah kekhalifahan islam pertama setelah masa khulafa ar-rasyidin yang memerintah dari 661 M sampai 750 M di jazirah arab dan sekitarnya, serta dari 756 M sampai 1031 M  di cordova, spanyol. Nama dinasti ini dirujuk kepada umayyah bin abd asy-syam, kakek buyut dari khalifah pertama bani umayyah, yaitu mu’awiyah bin abi sufyan atau kadangkala disebut juga dengan mu’awiyah. Ia adalah pendiri dan khalifah secara resmi, menurut ahli sejarah, terjadi pada tahun 660 M/40 H pada saat umayyah memproklamasikan diri menjadi khalifah di iliyah (palestina). Setelah pihaknya dinyatakan oleh majelis tahkim sebagai pemenang. Pemerintahan dinasti umayyah (41-132 H)
khalifah-khalifah dinasti umayyah
1.      Mu’awiyah bin abi sofyan
2.      Yazid bin mu’awiyah
3.      Mu’awiyah bin yazid
4.      Marwan bin hakam
5.      Abdul malik bin marwan
6.      Al-walid bin abdul malik
7.      Sulaiman bin abdul malik
8.      Umar bin abdil aziz
9.      Yazid bin abdul malik
10.  Hisyam bin abdul malik
B.     Sistem pemerintahan bani umayyah
1.      Pemindahan pusat pemerintahan dari madinah kedamaskus
2.      Mu’awiyah member penghargaan kepada orang-orang yang berjasa dalam perjuangan mencapai pundak kekuasaan
3.      Menumpas orang-orang yang beroposisi yang dianggap berbahaya jika tidak bisa dibujuk dengan harta dan kedudukan, dan menumpas kaum pemberontak.
4.      Membangun kekuatan militer yang terdiri dari tiga angkatan, darat ,laut dan kepolisian yang tangguh dan loyal.
5.      Meneruskan wilayah kekuasaan islam baik ke timur maupun ke barat
6.      Baik muawiyah maupun para penggantinya maupun para penggantinya membuat kebijaksanaan yang berbeda dari zaman khulafa al-rasyidin.
7.      Muawiyah mengadakan pembaharuan dibidang administrasi pemerintahan dan melengkapinya dengan jabatan-jabatan baru yang dipengaruhi oleh kebudayaan Byzantium.
8.      Mengubah system pemerintahan dari bentuk khalifah yang bercorak demokratis menjadi monarki.
C.    Pendidikan dizaman dinasti bani umayyah.
Dinasti bani umayyah berkuasa cukup lama selama kurang lebih 91 tahun lamanya. Kebijakan dan perubahan yang dilakukan oleh para khalifah tersebut menjadi pelajaran penting bagi pemimpin-pemimpin islam saat ini. Bani umayyah dalam pengembangan pola pendidikan islam memang masih sama dengan periodek sebelumnya tetapi sudah ada reformasi yang dilakukan baik dari segi kurikulumnya maupun tata cara yang dilakukan oleh para pendidiknya. Salah satu kemajuan pendidikan dizaman bani umayyah yakni pengembangan kurikulum pengajaran dan pendidikannya meskipun hal-hal tersebut belum terlalu formal seperti saat ini. Pembangunan sarana prasarana pendidikan baik pendidikan di khuttab, ruang sastra, dan bahasa, perpustakaan serta rumah sakit untuk praktik bagi calon dokter sudah tersedia pada saat itu. Kemajuan pengetahuan dan pembaharuan system pendidikan pada zaman daulah bani umayyah sudah terlihat. Karena pemerintah bani umayyah menaruh perhatian yang sangat dalam pada bidang pendidikan. Memberikan dorongan yang kuat terhadap bidang pendidikan dengan menyediakan sarana dan prasarana. Hal ini dilakukan agar para ilmuan, seniman, dan para ulama mau melakukan pengembangan bidang ilmu yang dikuasainya serta mampu melakukan kaderisasi ilmu.
D.    Masa kemunduran dan keruntuhan dinasti umayyah.
1.      Potensi perpecahan antara suku, etnis dan kelompok politik yang tumbuh semakin kuat
2.      Tidak adanya aturan yang pasti dan tegas tentang peralihan kekuasaan secara turun temurun yang mana mengakibatkan gangguan serius ditingkat Negara
3.      Sisa-sisa kelompok pendukung khalifah ‘ali bin abi thalib yang umumnya adalah kaum syi’ah dan kelompok khawarij terus aktif menjadi gerakan oposisi
4.      Sebagian besar golongan Malawi terutama di irak dan wilayah bagian timur lainnya merasa tidak puas dengan kebijakan pemerintah dinasti umayyah
5.      Sikap hidup mewah dilingkungan istana merupakan salah satu faktor lemahnya pemerintahan dinasti umayyah
6.      Penyebab langsung tergulingnya kekuasaan dinasti umayyah adalah munculnya kekuatan baru yang dipelopori oleh keturunan al-abbas bin abdul muthalib.
Saran
Dengan mengetahui sejarah bani umayyah terutama dalam bidang pendidikan sangat diharapkan kita yang notabenenya sebagai mahasiswa ataupun calon pendidik. Mampu mengambil pelajaran dan hikmah dari sejarah pendidikan pada zaman dinasti bani umayyah. Sehingga kita bisa mengaplikasikan dan mengembangkan pada lembaga-lembaga pendidikan yang kita bina nantinya.
Saya menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih sangat banyak kekurangan dan kesalahan, maka dari itu saya meminta kritik dan saran dari dosen pengampu mata kuliah sejarah kebudayaan islam agar saya dapat lebih baik lagi dalam mata kuliah sejarah kebudayaan islam.


    
   


  



   


Daftar rujukan:
1.     Al-maududi a’la abul, khilafah dan kerajaan, dar al-qalam, Kuwait, 1978 M/1398 H.
2.     Ruslan heri, khazanah menelisik warisan peradaban islam dari apotek hingga computer analog, gramedia, Jakarta.
3.     Zallum qadim abdul, system pemerintahan islam, darul ummah, cetakan VI, maret 2002 M/1422 H.
4.     Iskandar umar, tarikh islam, pondok modern Darussalam gontor
5.     محمد الحسين السماعيل, السقوط الأخير, مكتب وهبةز
6.     Prof. Dr. koto aladin, M.A. (et.al), sejarah pendidikan islam, Jakarta, PT.raja grafindo persada.
7.     Dr. al-khani ahmad, ringkasan bidayah wa nihayah sejarah awal mula penciptaan,kisah para nabi,kisah ummat-ummat terdahulu,sejarah nabi dan khulafa’ rasyidin,daulah umawiyah dan abasiyah,hingga peristiwa tahun 768 H, pustaka azzam.
8.     Andi bastoni hepi, sejarah para khalifah, pustaka al-kautsar
9.     Ph.D. qosim umam abu, tajarib al-umam (experiences of nations), Tehran 2001, sorous press.