Kata pengantar
Assalamualaikum Wr.Wb
Puji dan
syukur saya panjatkan kehadirat Allah swt. yang telah memberikan kekuatan dan
keteguhan hati kepada saya untuk menyelesaikan makalah ini. Sholawat
beserta salam semoga senantiasa tercurah limpahan kepada nabi Muhammad saw.
yang menjadi tauladan para umat manusia yang merindukan keindahan syurga.
Saya menulis makalah ini
bertujuan untuk mempelajari dan mengetahui ilmu tentang Sejarah Peradaban Islam yang
diberikan oleh dosen mengenai Dinasti
Bani Umayyah. Selain bertujuan untuk memenuhi tugas ujian
tengah semester, tujuan saya selanjutnya adalah untuk mengetahui proses
pendirian bani Umayah, pola pemerintahan Bani Umayah, Pola pemerintahan Umar
ibn Abdul Aziz hingga pemerintahan khalifah marwan bin muhammad, Ekspansi
wilayah, dan Peradaban Islam Pada masa Dinasti Bani Umayyah.
Dalam penyelesaian makalah
ini, saya banyak mengalami kesulitan, terutama disebabkan kurangnya ilmu pengetahuan.
Namun, berkat membaca buku dan kesungguhan dalam menyelesaikan makalah ini,
akhirnya dapat diselesaikan dengan baik.
saya menyadari, sebagai seorang pelajar yang pengetahuannya tidak seberapa yang
masih perlu belajar dalam penulisan makalah, bahwa makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu, saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang
positif demi terciptanya makalah yang lebih baik lagi, serta berdayaguna di
masa yang akan datang.
Besar harapan, mudah-mudahan makalah yang sangat sederhana ini dapat bermanfaat
dan maslahat bagi semua orang.
Wasalamu'alaikum Wr.Wb
Daftar isi
1. Kata pengantar
1
2. Daftar isi
2
3. Bab 1 pendahuluan
Latar belakang
3
Rumusan masalah
4
Tujuan penulisan
4
4. Bab 2 penbahasan
A. Antara bani umayyah dan bani hasyim 5
B. Pendidikan dizaman bani umayyah
25
C. sistem pemerintahan dinasti bani umayyah
31
D. cirri-ciri sistem pemerintahan dinasti bani
umayyah
34
E. masa kemunduran dan keruntuhan bani
umayyah 34
5. Bab 3 kesimpulan dan saran
38
Saran
40
Daftar rujukan
41
Bab satu
Pendahuluan
A. Latar belakang
Kejayaan yang dicapai muawiyah
ibn sufyan dalam kekhalifahan umat muslim setelah wafatnya khalifaur
Rasyidin Ali bin Abi Thalib dapat dikatakan sukses, meskipun hasan
putra Ali dideklarasiakan oleh umat muslim madina sebagai pengganti Ayahnya
menduduki jabatan khalifah ketika itu namun setelah melewati beberapa
pertimbangan dan renungan demi menghindari pertumpahan darah antar sesama
muslim maka oleh hasan menyerahkan sepenuhnya kekhalifahan kepada
muawiyah ibn Sufyan. ahkirnya Muawiyyah di baiat secara resmi dan
dideklarasikan sebagai khalifah umat muslim
Perkembangan sistem
pemerintahan muawiyah telah mengubah warna suksesi kepemimpinan dengan
jalan musyawarah menjadi monarki atau system kerajaan yang diwariskan secara
turun temurun, indikasinya dapat dilihat sikap muawiyah mengangkat anaknya
sendiri Yazid, sehingga pada umumnya sejarahwan memandang negativ terhadap
Muawiyah karena pada awal keberhasilan memperoleh legalitas atas kekuasaanya
dalam perang siffin dicapai melalui arbitrase.
Selama kurang lebih 90 tahun
kekuasan Bani Umayyah menduduki pemerintahan umat muslim,letaknya
di Damaskus sebagai ibu kota Negara yang sebelumnya Muawiyah menduduki
jabatan gubernur dikota tersebut setelah kekhalifahan direbut oleh Muawiyah
memindahkan ibu kota Negara ke damaskus sebagai sentral pemerintahan dan ketata
negaraan umat muslim disinilah Muawiyah membangun kekuatan awal Dinasti
bani Umayyah.
Perjalanan sejarah Kesuksesan
dan kejayaan yang dicapai sebagai indikator keberhasilan Bani Umayah
dalam melakukan ekspansi kekuasaan islam bukan hanya penaklukan-penaklukan
wilayah akan tetapi realitas sejarah perkembangan yang dicapai meliputi
bebagai bidang seperti sastra , ilmu pengetauan, ekonomi dan administrasi
Dinamika pemerintahan
Dinasti Bani umayyah ternyata dibalik kesuksesan dalam
pemerintahannya, perlahan-lahan juga mengalami degradasi dan keruntuhan
kekuasaan yang dialami oleh khilafah terahkir Marwan ibn Muhammad.
Keruntuhan tersebut dimulai bermunculan dari beberapa kelompok untuk melakukan
perlawanan dengan motif yang berbedah-beda diantaranya dendam politik lama dan
relevansinya dengan perselisihan klasik bani Hasyim dan bani Umayyah.
B.
Rumusan masalah
1.siapa sajakah khalifah
yang memimpin pemerintahan bani umayyah dan system politiknya ?
2.negara
mana saja yang telah di taklukkan oleh bani umayyah ?
3.apa
saja sebab-sebab runtuhnya bani umayyah dari segi internal dan eksternalnya ?
C. Tujuan penulisan
1.Agar mahasiswa dapat mengetahui
bagaimana sejarah bani umayyah secara keseluruhan.
2.agar mahasiswa dapat mengetahui
system pendidikan dizaman dinasti bani umayyah
3.Agar mahasiswa dapat mengetahui
system politik yang dijalankan oleh dinasti bani umayyah
Bab dua
Pembahasan
A.
Antara bani umayyah dan bani hasyim.
Mu’awiyah bin abi sufyan, pendiri baulat
bani umayyah ialah cicit dari umayyah bin abdi syams bin manaf, umayyah adalah
seorang dari pemimpin quraisy di zaman jahiliyyah, ketinggian dan kemuliannya
seimbang dengan hasyim bin abdi manaf. Oleh karena itu tidak mengherankan kalau
keturunan umayyah dan keurunan hasyim selalu berlomba dalam merebut pengaruh
dan kedudukan di kalangan quraisy. Perlombaan itu kerap kali menimbulkan
pertikaian dan pertumpahan darah antara kedua belah pihak, baik di zaman jahiliyah
maupun di zaman islam.
Diantara keturunan bani umayyah yang
terkenal ialah: harb, abu sufyan, mu’awiyah bin abi sufyan, dan yazid bin
mu’awiyah.
Ketinggian derajat abu sufyan bin harb
dalam kalangan suku quraisy dapat dilihat ketika nabi Muhammad membebaskan
mekkah, nabi pernah berkata ketika itu: “barang siapa yang menyarungkan
pedangnya,maka ia aman, siapa yang masuk masjid maka ia aman, siapa yang masuk
rumah abu sufyan maka diapun akan mendapat keamanan”.
Perkataan rasulullah yang sedemikian
itu menjadi tanda kehormatan besar bagi abu sufyan, kehormatan yang tak pernah
diterima oleh siapapun dari para sahabatnya.
Sedangkan yazid bin mu’awiyah pernah
diserahi oleh khalifah abu bakar memimpin pasukan tentara islam yang pergi
menaklukkan syam dan kemudian diangkat menjadi gubernur di kota damaskus,dan
mu’awiyah bin abi sufyan dijadikan gubernur di daerah syam. Setelah khalifah
abu bakar wafat,daerah pemerintahan yazid diserahkan oleh khalifah umar kepada
mu’awiyah.kemudian di zaman khalifah utsman, mu’awiyah diangkat menjadi wali
atas seluruh negeri syam.
Demikian riwayat keturunan umayyah
ini. Mereka pernah menjadi penguasa di zaman jahiliyyah dan zaman islam.
1.
Mu’awiyah bin abi sufyan (40-60 H. = 660-680 M.)
Mu’awiyah bin
abi sufyan menjadi khalifah
Mu’awiyah bin abi sufyan dapat menduduki kursi khalifah dengan berbagai
cara.yaitu dengan ketajaman mata pedangnya, dengan siasatnya dan dengan
politikya. Bukanlah ia mendapat pangkat yang mulia itu dengan ijma dan persetujuan ummat islam, melainkan karena
siasat politik.
Dengan naiknya mu’awiyah sebagai khalifah maka berakhirlah hukum syura,
pemilihan menurut hasil permusyawaratan terbanyak terbanyak, yang berlaku di
zaman khilafaurrasyidin, yaitu hukum yang menyerupai aturan pemerintahan republik
maka daulat islam pun berubah sifatnya menjadi daulat yang bersifat kerajaan
(monarki)
Sesungguhnya mu’awiyah telah sangat terpengaruh oleh peraturan
–peraturan peninggalan romawi negeri syam, yakni di negeri tempat ia memerintah
sebelumnya menjadi wali.
Kemegahan dan kemuliaan raja-raja yang belum pernah ditiru oleh
khalifah-khalifah yang terdahulu. Dia telah memakai singgasana dan kursi kerajaan
serta mengadakan barisan pengawal yang senantiasa menjaga dirinya mulai siang
hingga malam. Bahkan dalam masjidpun ia mendapatkan tempat yang istimewa,
tempat dia sembahyang seorang diri, dan selalu dijaga oleh pengawalnya. Hal ini
dilakukan untuk mengantisipasi peristiwa seperti yang pernah terjadi atas diri
ali bin abi thalib.
Kepribadian
mu’awiyah bin abi sufyan.
Mu’awiyah bin
abi sufyan adalah seorag diplomat arab yang terkenal, ialah yang di
tugaskan oleh rasulullah SAW
menyamampaikan surat beliau kepada
kaisra imperium romawi (Byzantium), seorang yang beruntung dalam karier politiknya,
sehingga dia dapat mencapai kekuasaan dan kedudukan yang amat tinggi yang
sebetulnya masih banyak yang lebih pantas darinya. Tabi’atnya yang penyantun
lagi sabar menderita atas segala bencana dan celaan membuka jalan baginya dlam
mencapai dan melaksanakan cita-citanya.
Dengan sifatnya yang sedemikian itu ia dapat mengalahkan perlawanan
partai ummat islam atas dirinya. Dalam soal keagamaan, fahamnya luas dan
fanatik. Ini terbukti dengan pengangkatannya seorang Kristen bernama sarjun
menjadi menteri keuangannya. Dan kebijakannya memperbaiki gereja di irak yang
runtuh akibat bencana gempa bumi. Bahkan ahluzzimmah sendiri, yaitu
seorang yahudi dan nasrani yang tunduk dibawah undang-undang kerajaan islam.
Mengakui akan keadilannya dan ketidak fanatikannya dalam agama. Mereka
seringkali menyerah perkara mereka yang teristimewa pentingnya kepada mu’awiyah
sendiri.
Penaklukan di zaman mu’awiyah
A.Penaklukan
kea rah timur
Mu’awiyah meluaskan kedaulatan islam ke
negeri-negeri sebelah timur, hingga sampai ke negeri sind (daerah sungai Indus
di india ). Gubernurnya yang di khurrasan yaitu sa’id putera utsman bin affan,
diperintahkan untuk menyebrangi sungai sihon untuk menaklukkan Samarkand dan
sughda (sogdiana) sehingga kedua negeri ini tunduk di bawah kekuasaannya.
B.Perang
melawan Byzantium
Imperium Byzantium senantiasa mengerahkan
laskarnya menjarah ke negeri-negeri yang di perintah oleh daulat islam. Oleh
sebab itu ia mu’awiyah bin abi sufyan mempersiapkan laskarnya untuk memerangi
imperium itu dari darat dan laut. Untuk melaksanakan pekejaan yang berat ini
agar berhasil. Maka ia memerintahkan angkatan perangnya memerangi orang-orang
Byzantium terus menerus, baik di usim dingin maupun di musim panas.
Angkatan perang mu’awiyah dapat
mengalahkan tentra Byzantium dalam beberapa pertempuran di Armenia dan di asia
kecil. Armadanya yang ketika itu terdiri dari 1700 kapal perang kecil.
Diperintahkan menyerang pulau-pulau Cyprus dan rhodus di laut tengah, sehingga
kedua pulau itu dan beberapa pulau lain di archipel dapat di taklukkan.
Pada tahun 48H (669 M) mu’awiyah
melengkapi angkatan perangnya yang dipimpin oleh panglima sufyan bin ‘auf
beserta sepasukan armada dibawah pmpinan laksamana fadhalah al-anshary, untuk
menyerang konstantinopel (ibu kota Byzantium). Sebagai panglima besar atas
kedua angkatan perang itu diangkat puteranya yazid bin mu’awiyah.
Serangan pertama ke konstantinopel
Tentara besar itu menyerbu memasuki
daerah-daerah romawi timur dan kemudian mengepung konstantinopel. Akan tetapi
angkatan perang ini tidak mampu menaklukkan kota itu karena benteng-bentengnya
sangat kuat. Akhirnya laskar besar itu terpaksa kembali ke syam setelah
kehilangan beberapa buah kapalnya dan sebagian besar balatentaranya. Dalam
pertempuran itu meninggal pula seorang sahabat yang menerima rasulullah SAW
dirumahnya sendiri ketika beliau hijrah ke yastrib, yaitu abu ayyub. Untuk
peringatan bagi sahabat yang mulia itu didirikanlah dikemudian hari sebuah
masjid megah di tenga kota konstantinopel bernama masjd ayyub. Sampai kini
masjid pusaka itu senantiasa diziarahi orang.
Serangan kedua
Pada tahun 58 H (679 M) mu’awiyah
mengerahkan balatentaranya untuk kedua kalinya mengepung ibukota kerajaan
Byzantium. Pengepungan yang sekali ini memakan waktu dua tahun lamanya. Akan
tetapi ketika pengepungan itu hamper usai, mu’awiyah meninggal dunia,dan
angkatan perangnya yang mengepung ibukota Byzantium itu dipanggil ke syam. Para
pemimpin daulat bani umayyah yang menggantikan mu’awiyah melanjutkan
usaha-usaha mu’awiyah itu dengan sangat sungguh-sungguh.
C.Perang
afrika
Pada tahun 50 H. mu’awiyah mengangkat
uqbah bin nafi’ menjadi wali di maghrib, panglima ini dapat mengalahkan serdadu
romawi di daerah itu, sehingga daerah daulat islam sampai ke negeri Tunisia.
Dengan usaha upbah ini banyak bangsa barbar yang memeluk islam. Disana
didirikan masjid nafi’ yang terkenal sebagai peringatan atas sahabat pemimpin
perang tersebut.
Pengangkatan putera mahkota
Pada
tahun 56 H (676 M) Mu’awiyah dengan wibawanya sebagai khalifah bisa membawa
dewan syura khilafah untuk memilih puteranya yazid menjadi calon khalifah
pengganti yang akan langsung menggantikan dirinya kalu mati. Dengan
perbuatannya ini berarti mu’awiyah telah mengangkat putera mahkota yang
merupakan puteranya sendiri, yang berarti telah mulai merubah undang-undang
khilafah yang semula dipilih oleh majlis permusyawaratan ummat islam menjadi
turun temurun. Dan dia pun telah melanggar janjinya dengan hasan bin ali, yaitu
janji yang telah diikrarkannya, bahwa pangkat khalifah sepeninggalannya
diserahkan kepada permusyawaratan ummat islam.
Walaupun mu’awiyah mengemukakan
alasan,bahwa dia berbuat sedemikian itu untuk mnghindari fitnah dan
persengketaan sebagaimana yang pernah terjadi pada zaman khalifah-khalifah
pendahulunya, namun siasatnya yang sedemikian itu menimbulkan huru-hara dan
pemberontakan sepeninggalannya.
1.
Yazid bin mu’awiyah (60-63 H = 680-683 M).
Sikap para sahabat atas pemerintahan yazid
Ibu yazid adalah wanita pedalaman yang
dinikahi oleh mu’awiyah sebelum ia menjadi khalifah. Oleh karena itu ia pun
membawa puteranya yazid pulang ke dusun untuk didik di dalam lingkungan yang
masih bersih, bahasa yang masih murni dan penuh kearifan dan sopan santun. Maka
ia tumbuh dengan sifat baduinya yang pemberani dan fasih bertutur kata, serta
pandai bersyair.
Akan tetapi ia bukanlah seorang yang
ahli dalam menduduki kursi khalifah, karena ia dinilai mempunyai tabi’at yang
di nilai tidak baik menurut hukum agama. Oleh karena itu pemerintahannya tidak
di sukai oleh para sahabat besar terutama, seperti Husein bin ali dan Abdullah
bin zubair.
Peristiwa karbala (61 H = 681 M.)
sebagian
penduduk irak mengirim surat kepada husein bin ali meminta ia datang ke kufah.
Mereka mengatakan bahwa mereka bersedia memberikan bantuan kepada husein dalam
segala hal yang di hajatkannya. Huseinpun terpedaya dengan bunyi surat itu. Dia
lupa akan apa yang telah dilakukan oleh penduduk irak atas ayahandanya Ali bin
Abi Thalib dan saudara kandungnya Hasan bin ali. Dengan pengiring yang
jumlahnya tidak lebih dari 80 orang, ia berangkat menuju kufah. Akan tetapi
ketika ia sampai di karbala, ia bertemu dengan tentara yazid yang di pimpin
oleh Ubaidillah bin Ziad.
Kematian Husein
Terjadilah perdebatan antara husein
dengan ubaidillah yang meminta agar husein tidak melanjutkan perjalanannya,
namun atas desakan beberapa pengikutnya husein tetap bulat meneruskan
perjalanannya yang menyebabkan bentrokan dengan tentara yazid. Dengan kejadian
ini husein baru insyaf kalau ia tertipu, sebab tidak banyak penduduk irak yang
membantunya. Maka terjadilah pengepungan atas husein serta para pengikutnya
yang hanya sedikit itu oleh tentara ubaidillah bin ziad yang berpuluh kali
lipat banyaknya. Alam pertempuran itu husein terbunuh dengan sangat
mengenaskan, kepalanya dipisah dari tubuhnya dan diserahkan kepada yazid di
damaskus.
Sekalipun yazid orang yang dzalim,
tetapi kematian husein yang mengerikan itu menyedihkan hatiny, karena
ayahandanya (mu’awiyah) berwasiat kepadanya,bahwa jika nanti terjadi
perselisihan dengan husein dan ia bisa menundukkan husein bin ali maka ia harus
memaafkannya dan menghormatinya. Tapi kini apa boleh buat, ia hanya bisa
memberikan kemurahan hatinya kepada anak-anaknya husein dan kaum keluarganya,
mereka itu dikirimkannya ke hijaz dengan segala penghormatan dan kemuliaan.
Pemberontakan hijaz
Berita perang karbala yang menyedihkan
itu tersebar luas, berita itu menggemparkan ummat islam. Hati mereka diliputi
kesedihan dan dendam yang menyala-nyala. Maka orang-orang syi’ah bersatu hendak
menuntut balas,sifat benci ummat islampun semakin bertambah terhadap keluarga
bani umayyah.
Kesedihan dan kemarahan itu meluao
dimana-mana, terutama di kota madinah tempat di kuburnya kakek husein bin ali,
yaitu nabi Muhammad SAW. Maka meletuslah pemberontakan besar di kota madinah
menentang pemerintahan yazid pada tahun 63H.(683M.) kaum pemberontak yang telah
naik darah itu dapat mengusir wali madinah dan menangkapi beberapa orang yang
berasal dari keturunan bani umayyah.
Untuk memadamkan pemberontakan besar
itu yazid mengerahkan 12.000 pasukannya yang dikepalai oleh muslim bin ‘uqbah.
Laskar itu mengepung kota madinah
dari juruan wadil harrah, yaitu dari utara kota itu, kemudian kota itu menyerah
dan dapat dikuasain kembali oleh bani umayyah.
Setelah dapat menundukkan kota
madinah, muslim bin ‘uqbah beserta laskarnya melaju ke makkah, karena disana
Abdullah bin zubair telah mengangkat dirinya sebagai khalifah kemudian
diperkuat dengan bai’at penduduk kota itu. Akan tetapi sementara dalam
perjalanan, muslim bin ‘uqbah meninggal dan pimpinan laskar sementara
diserahkan kepada hasyim bin numair seorang panglima bani umayyah yang terkenal
juga.
Setelah mereka tiba di makkah,
terjadilah pertempuran sengit antara mereka dan tentara Abdullah bin zubair (64
H .=683 M.) ketika itu sebagian dinding ka’bah runtuh karena terkena pelontar.
Ditengah berkecamuknya
peperangan,datanglah berita dari syam yang menyatakan bahwa yazid telah
meninggal dunia.dan oleh karena itu ibnu numair pun menghentikan peperangan .
Segala peristiwa itu merupaka
bencana besar yang telah menimpa ummat islam di zaman pemerintahan yazid untuk
selama-lamanya.
3.Mu’awiyah Bin Yazid (64 H=683 M)
Sebelum
yazid meninggal dunia ia telah berwasiat bahwa puteranya mu’awiyah bin yazid diangkat
menggantikan dia menjadi khalifah, menurut cara yang telah dilakukan oleh
ayahandanya mu’awiyah bin abi sufyan.
Akan tetapi mu’awiyah 2 bin yazid
ini hanya memerintah 40 hari saja, Karena ia sakit-sakitan dan jiwanya
membeontak tidak dapat bertanggung jawab aas perubahan dan kerusakan yang
ditinggalkan oleh ayhnya. Maka dengan kemauannya sendiri ia turun dari kursi
khilafah, dan pangkat khalifah diserahkan kepada musyawarah ummat islam agar
mereka dengan merdeka memilih dan mengangkat seorang khalifah yang layak
menurut mereka. Namun cita-citanya itu tidak menjadi kenyataan, karena
pemilihan khalifah telah ditentukan oleh kemauan keluarga bani umayyah.
4.Marwan bin hakam (64-65
H.=683-685 M.)
Perpecahan keluarga bani umayyah
Setalah mu’awiyah 2 menyatakan
berhenti dari khalifah. Timbul persoalan pelik diantara penduduk syam, yaitu
tentang siapa yang akan dipilih menjadi khilafah. Kesulitan itu adalah
perpecahan dikalangan bani umayyah, yaitu kelompok yang hendak mengangkat
Khalid bin yazid yang masih kecil dan kelompok yang hendak mengangkat marwan
bin hakam, seorang yang tertua dalam keuarga bani umayyah. Karena perpecahan
inilah khlafah nyaris terlepas dari kekuasaan bani umayyah.
Penolakan
Abdullah bin zubair
dalam pada itu
Abdullah bin zubair semakin luas pengaruhnya. Ia telah diakui menjadi oleh
penduduk hijaz,irak,yaman dan mesir, bahkan sebagian penduduk syam juga telah
ada yang berpihak kepadanya. Akan tetapi Abdullah bin zubair ini bukanlah
seorang ahli siasat yang tajam pandangannya.
Hasyim bin numair panglima perang
bani umayyah yang memeranginya di mekkahpun telah datang hendak membaiatnya.
Asalkan ia pindah ke syam.tetapi tawaran itu di tolak oleh Abdullah bin zubair,
karena ia hendak menghidupkan kemegahan dan kebesaran di tanah hijaz sekali
lagi, dengan menjadikan pusat khilafah ummat islam. Dia tidak menyadari bahwa
keputusannya itu telah mengurangi dukungan atasnya untuk menjadi seorang
khilafah secara menyeluruh. Sementara bani umayyah telah kembali dan kemudian
mereka menetapkan marwan bin hakan menjadi khalifah pada tahun 64 H. dengan
demikian khilafah telah berpindah dari keturunan abu sufyan kepada keturunan
marwan bin hakam, dari belahan suku umayyah yang lebih besar.
Disini terjadilah perlombaan dua
pemimpin besar yaitu Abdullah bin zubair di makkah dan marwan bin ham di
damaskus.
Huru hara di
syam
Pada masa
pemerintahan marwan inilah terjadi huru-hara di Negara syam. Tetapi berkat
kesungguhan dan keteguhan hatinya marwan bisa mengatasi dan mengirimkan
pasukannya ke mesir untuk merebut propinsi itu dari tangan walinya yang
diangkat oleh ibnu zubair.
Marwan hanya memerintah selama 9
bulan, waktu tersebut hanya digunakan untuk menguatkan kedudukannya saja, dan
sebelum ia meninggal ia telah menetapkan penggantinya
5.Abdul malik bin marwan (65-86 H=685-705
M)
A. Kepribadia abdul malik bin
marwan
Setelah marwan bin hakam wafat,
timbullah kekacauan dalam daulat bani umayyah, sehingga hamper saja daulah itu
pecah belah dan hancur oleh pemberontakan dan huru hara dalam negeri. Akan
tetapi untunglah khalifah yang menggantinya abdul malik bin marwan, yaitu puteranya
sendiri seorang yang bijaksana dan berhati baja,pandai dan cerdik dalam
mengurus segala urusan kerajaan. Ia termasuk seorang khalifah yang besar yang
bersejarah dalam daulat bani umayyah.
Langkah pertama kepemimpinannya
ialah memadamkan segala pemberontakan dan huru-hara. Peperangan melawan para
pemberontak itu berjalan selama tujuh tahun lamanya,setelah itu pemerintahan
berjalan normal dan kedudukan khalifah menjadi kokoh kembali.
B.Kesulitan-kesulitan yang
dihadapi
1.menghadapi perlawanan kelompok syi’ah
Lantaran
pembunuhan husein bin ali di karbala, api kemarahan hati ummat islam menyala
atas keluarga bani umayyah. Syi’ah berusaha menyebarkan bibit-bibit kebencian
ummat islam yang ada di kufah terhadap bani umayyah, sehingga timbul penyesalan
dan dendam yang sangat mendalam. Orang-orang kufah berangkat menuju ke ‘ainul
wardah, satu tempat dekat sungai euphart. Mereka dapat menarik sebagian besar
penduduk basrah dan madin kedalam barisan mereka. Mereka hendak memberontak.
Setelah abdul malik bin marwan
mendengar berita tersebut, ia segera mengerahkan pasukannya sebanya 30.000
orang dibawah pimpinan ubaidillah bin ziad. Pasukan ini berhasil mematahkan
kaum pemberontak.
Namun sesaat setelah itu golongan
syi’ah yang lain dibawah pimpinan mukhtar bin abi ubaid, sebagai wali irak yang
diangkat oleh Abdullah bin zubair,menyatakan berdiri sendiri keluar dari kedua
kekuasaan baik bain umayyah atau Abdullah bin zubair.
Perlawanan mukhtar ini
memporak-porandakan pasukan ibnu ziad , bahkan ubaidillah bin ziad pun mati
terbunuh.
2.Menghadapi
Abdullah bin zubair
Khalifah
Abdullah bin zubair mengangkat saudaranya mash’ab menjadi gubernur di irak. Dia
di perintahkan oleh Abdullah merebut irak kembali dari tangan mukhtar, wali
yang mendurhakainya.
Pertempuran antara laskar mukhtar
dan laskar mash’ab terjadi, mash’ab memperoleh kemenangan, sedangkan mukhtar
beserta laskarnya yang berjumlah 7000 mati terbunuh di medan perang, peristiwa
ini terjadi pada tahun 67 H.(687 M.).
Setelah mash’ab membersihkan irak
dari pengaruh partai syi’ah yang dikepalai mukhtar bin ubaid, ia bersiap-siap
hendak memerangi abdul malik bin marwan.
Khalifah abdul malik bin
marwan dengan segara menyiapkan angkatan perangnya yang terdiri dari laskar
syam, mesir dan aljazair. Maka terjadilah pertempuran dasyat diantara kedua
belah pihak. Laskar mash’ab mengalami kekalahan, mash’ab sendiri terbunuh di
medan pertempuran. Kekalahan besar ini terjadi karena pengkhianatan laskar asal
irak yang keluar dari barisan dan menggabungkan diri dengan pasukan abdul
malik. Peristiwa ini terjadi pada tahun 72H (692 M).
Setelah abdul malik mengalami
kemenangan di irak itu, ia mengerahkan laskarnya untuk memerangi Abdullah bin
zubair di hijaz. Untuk melaksanakan niatnya ini abdul malik mengirimkan
panglimanya al-hajjaj bin yusuf ats-saqafi. Panglima ini mengepung kota mekkah
sekuat tenaga, sehingga kota itu menyerah dan Abdullah bin zubair pun dapat di
bunuh pada tahun 73H.(693 M). setelah peristiwa itu abdul malik mengangkat
al-hajjaj menjadi wali atas hijaz,yaman dan yamamah sampai tahun 75 H.
3.Menghadapi
kaum khawarij
Sesudah abdul malik
membersihkan syam dan palestina dari kaum pemberontak, ia tidak ragu lagi untuk
mengarahkan pasukannya ke daerah masyriq (daerah-daerah di sebelah
timur) untuk itu panglima terkenalnya kembali diperintahkan yaitu al-hajjaj bin
yusuf ats-tsaqafy. Ia segera berangkat ke kufah, di dalam masjidnya ia
berpidato dengan suara yang keras membanggakan dirinya, menyatakan keras
perintahnya atas rakyat yang keras kepala. Dari sana ia terus ke basrah, dan
dinegeri ini ia melakukan hal yang sama seperti di kufah. Kemudian ia membantu
mahlab bin abi sufrah membersihkan irak dan Persia dari kaum khawarij.
Al-hajjaj terkenal dalam sejarah karena kekejamannya dan darah dinginnya
membunuh sesame manusia.
4.Menghadapi
‘amru bin sa’id
Pada tahun 70H.(690 M.) seorang
dari keluarga abdul malik yang bernama ‘amru bin sa’id mendurhakai khalifah.
Pendurhakaan tersebut ditumpas dengan tipu muslihat saja, yaitu dengan
mengangkat ‘amru bin sa’id menjadi putera mahkota.akan tetapi tidak lama
kemudian di dipanggil meghadap, pengangkatan itu dibatalkan dan ia pun dibunuh,
kepalanya dilemparkan kepada pengiringnya ang menunggu dibawah. Menyaksikan
peristiwa yang mengerikan itu laskar ‘amru bin sa’id kecil hati dan lari cerai
berai. Dengan kematian ‘amru bin sa’id ini selamatlah ia dari bahaya terakhir
yang menggerogoti kekuasaannya.
C.Perbaikan yang dilakukan abdul
malik
Setelah abdul
malik membersihkan khalifahnya dari para pemberontak, ia segera menghilangkan
bekas peristiwa-peristiwa tersebut,iapun mengadakan perbaikan didalam,yang
dengan demikian ia dijuluki sebagai pendiri daulat bani umayyah yang kedua.
Adapun perbaikan-perbaikan itu ialah:
1.Perbaikan
administrasi daulah
sebelum abdul
malik memerintah,mata uang yang beredar dalam masyarakat ialah mata uang Persia
dan Byzantium. Hal ini berubah dizaman abdul malik. Ia mendirikan pabrik mata
uang di damaskus, pada mata uang tersebut bertuliskan la ilaha illa allah,
dan dibaliknya ditulis nam khalifah sendiri.
Surat-menyurat dalam dewan keuangan
yang dulunya dalam bahasa Persia dan romawi diganti dengan bahasa arab,
perlakuan ini berlaku di seluruh syam dan Persia. Sedangkan dimesir baru
dirubah ke bahasa arab pada masa puteranya walid bin abdul malik.
Usaha abdul malik yang demikian itu
sangat besar pengaruhnya terhadap kemajuan bahasa arab, sehingga ia menjadi
bahasa pengetahuan,terutama dalam ilmu hitung dan falak. Seiring dengan itu
abdul malik berusaha menghidupkan kegiatan para pujangga dalam memperindah
syair dan karangannya. Dia sendiri dikenal sebagai seorang yang ahli pidato
yang bijaksanadan penyir yang fasih.
2.memperbaiki
pos intelejen
Ia
menyempurnakan system pos intelejen yang sebelumnya telah berjalan, disetiap jarak
jauh seperjalanan kuda didirikan tempat pemberhentian.
Adapun tugas jawatan pos
intelejen yang utama ialah mengamati segala pekerjaan para pembesar Negara dan
menyampaikan segala kejadian di daerah kepada khilafah.
3.Membentuk
mahkamah agung
untuk memeriksa
dan mengadili perkara-perkara pembesar tinggi dan orang-orang yang
dipemerintaha, abdul malik membentuk pengadilan agung. Hal ini sengaja
didirikan supaya para pembesar Negara yang tertinggi tidak berbuat sekehendak
hatinya sendiri kepada rakyat atau kepada bawahannya. Hakim yang mengepalai
mahkamah ini adalah seorang ternama dan salah seorang ahli dalam hukum-hukum
agama. Siapa saja yang merasa dirinya tertindas oleh para pembesar kerajaan,
boleh mengadukan kepada mahkamah itu.
4.Mendirikan
bangunan yang megah
Abdul malik tidak lupa memperbaiki
kota-kota dengan mendirikan gedung-gedung yang indah, seperti rumah suci Qubbatu
Sakhra di baitul maqdis dan lain-lain. Demikian pun ia mendirikan sebuah Darus
Shina’ah di tunis, tempat pembuatan kapal perang dan senjata. Dari sanalah
didatangkan berates-ratus kapal untuk angkatan laut daulat bani umayyah.
D.Kematian abdul malik
Sesudah memerintah selama 21
tahun, abdul malik abdul malik bin marwan wafat di damaskus dalam usia 60
tahun. Dari selama itu kurang lebih delapan tahun dihabiskan untuk memberantas
pemberontak dan menghadapi persengkataan dengan Abdullah bin zubair.
Sebenarnya putera mahkota yang
akan menggantika dia ialah abdul aziz, saudaranya sendiri. Akan tetapi abdul
aziz terlebih dahulu meninggal. Maka abdul malik mengangkat dua orang puteranya
menjadi putera mahkota, yaitu al-walid dan sulaiman.
Ahli sejarah member gelar abdul
malik dengan sebutan ‘abul muluk’, yang artinya ayahanda para raja, karena
empat orang dari puteranya menjadi khalifah. Yaitu al-walid,sulaiman,yazid,dan
hisyam.
6.Al-walid bin abdul malik (86-96
H.= 705-715 M.)
Zaman
keemasan bani umayyah
zaman khalifah
al-walid bin abdul malik adalah zaman keemasan dan kemegahan bani umayyah. Pada
zamannya kekuasaan daulat bani umayyah di perluas ke timur dan barat. Ke timur
sampai di hindustan dan perbatasan tiongkok dan ke barat sampai di spanyol dan
perancis bagian selatan. Di zaman al-walid bin abdul malik inilah peradaban dan
kebudayaan islam tumbuh pesat, bangunan-bangunan megah, masjid yang indah juga
didirikan seperti masjid raya ‘al-umawy’ di damaskus dan masjid ‘an-nabawy’ di
madinah juga diperbaharui.
Khalifah al-walid juga dikenal
dengan khalifah yang penyantun kepada fakir-miskin. Dia sangat memperhatikan
keadaan rakyatnya dan senantiasa berusaha meringankan penderitaan rakyat yang
melarat. Ini dapat dibuktikan dengan usahanya mendirikan rumah sakit untuk
orang yang menderita penyakit kusta dan sebagainya. Ia mendirikan tempat-tempat
penginapan yang lengkap dengan penjaganya, menyediakan petunjuk jalan dan
menghibur hati bagi orang buta.
Perluasan wilayah di zaman
al-walid
Ke daerah
timur
Laskar al-walid
yang dipimpin oleh panglima qutaibah bin muslim telah sampai ke seberang sungai
jihon dan sungai sihon, menaklukkan negeri Bukhara dan samarkhand, yaitu dua
negeri yang terletak di asia tengah dan mayoritas penduduk dari bangsa turki.
Dengan penaklukkan ini berarti daulat
islam meluas sampai pada kerajaan tiongkok.
Ke daerah
barat
Di antara
penaklukkan di zaman al-walid bin abdil malik juga adalah daerah maghribil
aqsha (barat jauh) yang pada masa sebelumnya ummat islam pernah mendudukinya
namun kedudukan disana tidak kokoh karena bangsa barbar slalu memberikan
perlawanan. Pada masa inilah al-walid memperkuat kedudukan ummat islam disana.
Mereka senantiasa menaruh dendam kepada amir arab yang memerintah
mereka, karena para amir disana kerap kali mmperlakukan mereka seperti rakyat
jajahan, disamping seringnya tentara Byzantium membantu perlakuan mereka.
Untuk memerintah daerah yang selalu bergejolak itu, khalifah al-walid
mengangkat musa bin nushair menjadi wali afrika utara. Berkat usaha al-walid
ini maghribil aqsha takluk, musa bin nushair melanjutkan penyiaran agama islam
di daerah tepian laut atlantik (selain kota kueta).
Islam
merambah eropa
Daulat islam
selalu mengintai peluang yang baik untuk menaklukkan Andalusia (spanyol). Pada
tahun 710 sepeninggalan witiza raja gothia barat, singgasananya diduduki oleh
panglimanya,roderik. Semua putera witiza bersekutu dengan graf yulian yang juga
musuh roderik untuk merebut kembali singgasana ayah mereka.
Graf yulian meminta bantuan kepada
musa bin nushair. Tentu permintaan itu diterima musa, khalifah al-walid
menyetujui langkah musa dengan pesan agar berhati-hati dengan graf, kalau
permohonan itu hanya tipuan. Musa memerintah perwira thariq bin malik dengan
500 tentara menguasai beberapa pelabuhan dispanyol selatan. Ternyata thariq mendapat bantuan besar dari
graf sehingga mendapat kemenangan. Setelah musa bin nushair semakin yakin ia
menyediakan 7000 laska islam yang kebanyakan dari bangsa barbar dibawah
pimpinan thariq bin ziad yang ketika itu menjabat gubernur tanger untuk
menduduki Andalusia.
Pembebasan
Andalusia
Pada tahun 92
H.(711 M) thariq bin ziad, menyebrang ke Andalusia dengan kapal-kapal yang
disediakan oleh graf yulian.
Sebelum menyebrang ke daratan eropa
tersebut thariq bin ziad beserta laskarnya mempersiapkan diri di lereng sebuah
gunung, yang sekarang dikenal dengan nama pemimpin itu yaitu jabal thariq, yang
juga biasa disebut giblartar, selat yang disebranginyapun diberi nama serupa.
Sampai disana ia menduduki propinsi
selatan gothia barat di semenanjung Iberia dan menguasai beberapa benteng kuat.
Dari sana terus maju ke Toledo, ibukota kerajaan gothia.
Roderik mendatangkan 100.000 tentara
untuk menangkis thariq. Meihat musuh yang sangat banyak dan tak seimbang,
thariq meminta bantuan tentara kepada musa. Musa mengirim bantuan sebanyak 5000
tentara, maka jumlah laskar islam seluruhnya sebanyak 12000 orang, maka
terjadilah perang xerez.
Dalam perang ini laskar
islam gentar lantaran banyaknya musuh, thariq dengan keberaniannya membakar
semangat laskarnya dengan khutbahnya yang sangat terkenal: “wahai manusia
dengarkanlah, musuh-musuh menghadang dihadapan kalian dan lautan membentang
dibelakang kalian, demi allah kalian tidak mempunyai apa-apa kecuali keteguhan
dan kesabaran…. Dst”
Putera witiza membantu thariq, graf
yulian membelotkan tentara roderik sehingga mereka terpecah. Disinilah thariq
memperoleh kemenangannya yang sangat gemilang, dan berhasil enduduki daerah
penting kordova,Granada,Malaga lalu menuju Toledo dan berhasil membunuh
roderik.
Dengan penaklukkan ini islam telah
mengadakan perombakan dan perbaikan secara menyeluruh dan besar-besaran, baik
dari sistim kenegaraan,strata sosial,ilmu pengetahan dan segala segi kehidupan
bermasyarakat.
Al-walid memerintah selama 9 tahun 7
bulan, ia wafat pada usia 42 tahun 6 bulan. Dimakamkan di damaskus,
sepeninggalannya diangkatlah saudara kandungnya sulaiman bin abdul malik
sebagai penggantinya.
7.Sulaiman bin abdul malik (96-99
H.=715-717 M.)
Haluan
sulaiman bin abdul malik
Di zaman
khalifah bin abdul malik kemewahan mewarnai Negara. Siasatnya sangat berbeda
dengan ayahandanya abdul malik dan saudaranya al-walid. Kalau ayahandanya dan
saudaranya itu memberikan kepemimpinan Negara dan tentaranya kepada orang-orang
besar seperti al-hajjaj,qutaibah,musa dan thariq, maka sulaiman melakukan
sebaliknya. Bahkan orang-orang tersebut dipecat dan diganti, dan orang-orang
yang bepihak kepada mereka ditangkap dan dipenjarakan.
Tidak lama setelah memerintah,para
tawanan yang di tawan al-hajjaj di irak ditangkap dan hartanya dirampas.
Demikian hal tersebut menimpa qutaibah bin muslim penakluk negeri disebrang
sungai jihon.
Sebab murka sulaiman kepada
keluarga kedua panglima tersebut adalah karena mereka pernah berusaha untuk
memecat sulaiman sebagai putera mahkota sewaktu al-walid masih hidup.
Nasib lebih mengenaskan dialami
oleh musa bin nushair, panglima perang penakluk afrika utara dan Andalusia itu
menjadi korban kemurkaannya, sehingga ia dipenjarakan dan mati dalam
kemiskinan.
Sebab murka sulaiman terhadap musa
bin nushair adalah Karena sebelum al-walid wafat, sulaiman mengirimkan surat
kepada musa bin nushair agar ia tidak datang ke damaskus dan membawa harta
rampasan perang sebelum al-walid wafat, dengan maksud agar harta rampasan tersebut
jatuh ketangan sulaiman, namun hal itu tidak diindahkan oleh musa bin nushair,
ia tetap datang ke damaskus dan membawa harta rampasan perang ketika al-walid
masih hidup. Inilah yang membuat sulaiman marah, dan kemarahan itulah yang ia
balaskan ketika ia menjadi khalifah dengan kekejaman yang luar biasa.
Pengepungan
konstaninopel yang ketiga
Kota konstantinopel dikepung oleh
laskar islam untuk yang ketiga kalinya pada masa pemerintah sulaiman. Sebelum
al-walid wafat, ia telah menyiapkan angkatan perang besar untuk menyerang
konstantinopel dibawah pimpinan saudaranya maslamah bin abdul malik, usaha ini
diteruskan oleh sulaiman.
Armada islam ketika itu terdiri dari
1700 kapal dan membawa 100.000 tentara. Seorang pangeran Byzantium yang bernama
pangeran leo menggabungkan diri kedalam laskar islam yang berada di asia kecil,
namun bergabungnya itu mempunyai maksud untuk mendapatkan kembali mahkota
Byzantium.
Laskar islam dari asia kecil itu
dapat merebut satu persatu kota-kota di asia kecil, sehingga mereka menyebrang
mendekati dinding konstantinopel. Disana mereka bertemu dengan armada angkatan
laut dari syam dan mesir, lalu mereka mengepung kota itu bersama-sama.
Akan tetapi ketika pengepungan
berada pada puncaknya, pangeran leo berkhianat dan memaklumkan diri sebagai
kaisar Byzantium, lalu ia berbalik memerangi tentara islam. Armada islam
dibakarnya sehingga banyak sekali tentara arab yang mati. Mereka kembali ke
syam dengan menderita kerugian yang sangat besar.
8.Umar bin abdul aziz (99-101
H=717-720 M)
Umar bin abdul aziz dipandang ummat
islam seperti khalifah umar bin khattab dalam keadilan dan kesalehannya. Hal
ini tidak mengherankan, karena sesungguhnya ibu dari umar bin abdul aziz adalah
seorang puteri dari ‘ashim bin umar bin al-khattab. Maka ia mewarisi beberapa
sifat yang mulia dari kakeknya umar bin khattab, seperti zuhud,wara’,adil dan
ahli ilmu agama.
Karena kepribadian dan siasatnya
yang mengikuti khalifah umar bin khattab itulah maka sebagian orang
menjulukinya sebagai’khulafa ‘ urrasyidin yang kelima’. Kemuliaan
sifat-sifatnya banyak diabadikan dalam kisah-kisah yang menunjukkan sifat
sederhana,zuhud,sangat membedakan antara hak pribadi,keluarga,dan Negara,sampai
ada riwayat yang mengatakan bahwa pada zaman pemerintahan umar bin abdul aziz
tidak ditemukan orang miskin, dan kalau mereka menelusuri keluarga miskin akan
ditemukan salah satu keluarga yang merupaka keluarga umar bin abdul aziz
sendiri.
Di zaman khalifah abdul malik dan
al-walid dia menjadi wali di hijaz. Ditangannyalah usaha memperbaiki masjid
nabawi di madinah dan pemerintahannya berjalan dengan sempurna.
Ketika ia mendengar wasiat khilafah
yang jatuh kepadanya, ia menangis akan berat beban dan amanat yang ia emban sabagai khalifah.
Pada masanyalah perintah penulisan hadist dimulai, karena banyaknya kelompok
ummat islam, umar khawatir ummat islam lebih mendengarkan ucapan pimpinan
kelompok masing-masing dibandingkan sabbda rasulullah SAW.
Siasat dalam
negeri umar bin abdul aziz
Khalifah umar bin abdul aziz
mengganti wali-wali yang diangkat oleh sulaiman dengan orang-orang yang
dipandangnya cakap, dan layak untuk mendapatkan jabatan itu. Mereka bertanggung
jawab penuh atas kesempurnaan jalannya pemerintahan dalam wilayah mereka
masing-masing dihadapan khalifah. Mereka tidak boleh menjatuhkan hukuman mati
kepada seseorang sebelum ketetapannya disetujui oleh khalifah.
Satu diantara bukti keadilan
khalifah umar bin abdul aziz adalah sikapnya yang menyama-ratakan hadiah dan
pemberian kepada ummat islam, dengan tidak ada perbedaan antara satu dengan
yang lain. Ia berusaha memperbaiki hubungan antara bani umayyah dengan
keturunan ali bin abi thalib beserta golongan syi’ah. Dahulu sejak tahun 41H.
ketika hasan bin ali menyatakannya berhenti dari kursi khalifah dan
menyerahkannya kepada mu’awiyah, nama ali bin abi thalib selalu dicela diatas
mimbar saat bani umayyah berpidato. Maka sejak umar bin Abdul aziz memerintah
pada tahun 99 H. Ia tidak lagi pidato yang menjelekkan keluarga ali bin abi
thalib.
Siasat
khalifah umar bin abdul aziz
khalifah umar
bin abdul aziz menjauhkan diri dari penaklukkan negeri-negeri. Angkatan perang
islam yang sedang mengepung konstantinopel dipanggil pulang ke damaskus.
Minatnya dihadapkan pada perluasan agama islam. Beberapa orang mubaligh dikirim
menghajat para raja hindu dan sind menyeru mereka kedalam islam. Mereka tidak
diwajibkan membayar upeti dan kemerdekaan mereka tidak diganggu. Hal yang
seperti itu juga dilakukan kepada raja-raja turki dan amir barbar di afrika.
Siasat khalifah umar bin abdul aziz
yang sedemikian justru besar pengaruhnya, sehingga raja-raja hindu dengan tulus
mereka memeluk agama islam.
Kematian umar
bin abdul aziz
Ia memerintah
hanya dua tahun dua bulan lamanya, namun namanya harum semerbak sepanjang masa,
karena sifat-sifatnya yang mulia, seperti halnya para khulafairrasyidin,
sebagian orang menjulukinya sebagai khulafairrasyidin yang kelima. Khalifah
yang budiman itu wafat pada tahun 101 H. (720 M.) pada usia 39 tahun, dengan
tidak mewasiatkan pangkat khalifah kepada puteranya.
9.Yazid bin abdul malik (101-105
H.=720-724 M.)
Pada permulaan
pemerintahan yasid bin abdul malik mengikuti jejak khalifah umar bin abdul
aziz. Akan tetapi yang demikian itu hanya sebentar. Tidak lama kemudia timbul
dari tindakannya yang menyebakan kekalukan dalam kerajaan.
Sendi kedaulaan bani umayyah mulai
goyah, di jazirah arab terjadi huru-hara dan pemberontakan.
Yazid bin mahlab bekas panglima dan
amir di masyrik yang dipenjara di zaman umar bin abdul aziz dapat melarika diri
dari penjara ketika umar bin abdul aziz wafat. Ia mengadakan pemberontakan,
wali basrah itu di tawan, kufah juga ditaklukkan sehingga ia banyak dapat
pengikut dari dua daerah itu.
Setelah besarnya ancaman bahaya
yang datang dari yazid bin mahlab, khalifah mengarahkan tentaranya dibawah
pimpinan maslamah bin abdul malik. Tapi walaupun maslamah dapat membunuh yazid
bin mahlab dan mengalahkan para pengikutnya, namun pengaruhnya sangat besar
bagi daulat bani umayyah.
Dizaman khalifah yazid inilah
keluarga bani abbas mulai menghimpun kekuatan di khurrasan pada tahun 103 H(722
M). keluarga inilah yang nantinya akan meruntuhkan kekuasaan bani umayyah. Pada
masa yazid ini pula lahir seorang bernama abul abbas assafah (penumpah darah),
yaitu khalifah pertama dari keluarga bani abbas.
Khalifah yazid wafat pada tahun 105
H.(724 M). pada usia 40 tahun. Pemerintahannya hanya 4 tahun 1 bulan ini
diwarnai dengan kemewahan dan huru-hara.
10.Hisyam bin abdul malik (105-125
H = 724-743 M)
Hisyam bin abdul malik ditetapkan
sebagai khalifah di hari wafatnya yazid pada tahun 105 H (724 M). dia seorang
khalifah yang bijaksana,mulia,budiman dan perkasa. Ia dikenal sebagai seorang
negarawan yang pandai, mempuyai ketelitian dan pandangan yang tajam. Pernah ada
yang mengatakan bahwa negarawan yang pandai dizaman bani umayyah adalah
mu’awiyah,abdul malik dan hisyam.
Pemberontakan
di kufah
pada zaman
pemerintahannya ini timbul pemberontakan dari kelompok zaidiyah yang dikepalai oleh
zaid bin ali zainul abidin, keturunan ali bin abi thalib, ia menyeru orang
kufah untuk membaiatnya sebagai khalifah, pengikutnya kurang lebih sebanyak
15000 orang.
Namun pemberontakan kelompok
zaidiyah ini dapat dipadamkan oleh amir kufah yusuf bin Muhammad. Pengikut zaid
banyak yang lari meninggalkannya, dan dengan tentara yang tidak seberapa
banyaknya zaid meneruskan perlawanannya hingga ia mati terbunuh dalam perang
melawan amir kufah itu pada tahun 122 H. Seorang putera zaid yang bernama yahya
dapat melarikan diri ke khurassan, ia menetap disana selama 3 tahun.
Penduduk khurasan membaiatnya
sebagai khalifah, dan kemudian melakukan perlawanan terhadap khalifah hisyam
bin abdul malik, namun nasibnya tidak jauh berbeda dengan ayahnya, ia mati
terbunuh dalam pertempuran.
Penaklukkan
dizaman hisyam
Zaman hisyam adalah zaman banyak penaklukan,
ia tidak berhenti memerangi orang Byzantium di perbatasan siria dan asia kecil
serta orang turki di kaukasia. Panglima tentaranya dari keluarga bani umayyah
sendiri.
Di zaman hisyam bin abdul malik ini
juga laskar arab yang di andalus menyerbu masuk tanah perancis, mereka sampai
ke kota tours di perancis selatan. Semula laskar islam mengalami kemenangan atas
kecerdikan panglimanya Abdurrahman al-ghafiqy.
Akan tetapi cahaya mereka mulai
pudar dikala dimusim dingin memasuki kota tours dan poitiers,Abdurrahman kalah
besar, laskarnya cerai berai diserbu laskar karel martel, pahlawan terkenal
prancis. Dengan kekalahan itulah benua eropa terlepas dari kekuatan laskar
islam.
Perbaikan di
zaman hisyam
Khalifah hisyam bin abdul malik sangat
mementingkan kemakmuran kerajaannya. Untuk pengairannya ia memerintahkan
penggalian beberapa sungai, terutama ditempat-tempat sepanjang jalan ke
madinah. Di zamannya didirikan kerajinan sutera, diperbanyak pabrik senjata dan
pabrik pembuat pakaian tentara.
Hisyam seorang yang gemar memelihara
kuda pacuan dan dialah khalifah yang pertama kali mengadakan tempat pacuan
kuda.
Diantara kekurangan hisyam bin abdul
malik ialah sikapnya terhadap kaum ‘alawiyyin, dimana ia sering menindas dan
berlaku kasar atas mereka.
B.Pendidikan di zaman bani umayyah
dapat diketahui
bahwa situasi politik,sosial dan keagamaan memiliki kaitan yang erat dengan
masalah pendidikan. Adanya wilayah yang luas dan penduduk yang makin besar
selain membutuhkan sandang,pangan dan papan, juga membutuhkan
keamanan,kesehatan dan juga pendidikan. Berbagai sumber menyebutkan keadaan
pendidikan di zaman bani umayyah sebagai berikut:
1.
Visi,misi,tujuan, dan sasaran
Visi pendidikan di zaman bani
umayyah secara eksplisit tidak dijumpai. Namu dari berbagai buku dapat kita
ketahui bahwa visinya adalah unggul dalam ilmu agama dan umum sejalan dengan
kebutuhan zaman dan masing-masing wilayah islam.
Adapun
misinya antara lain :
a. Menyelenggarakan pendidikan agama dan
umum secara seimbang
b. Melakukan penataan kelembagaan dan
aspek-aspek pendidikan islam
c. Memberikan pelayanan pendidikan pada
seluruh wilayah islam secara adil dan merata
d. Menjadikan pendidikan sebagai penopang
utama kemajuan wilayah islam
e. Memberdayakan masyarakat agar dapat
memecahkan masalahnya sesuai dengan kemampuannya sendiri.
Adapun tujuannya ialah
menghasilkan sumber daya manusia yang unggul secara seimbang dalam ilmu agama
dan umum serta mampu menerapkannya bagi kemajuan wilayah islam
Sedangkan yang menjadi sasarannya
adalah seluruh ummat atau warga yang terdapat di seluruh wilayah islam, sebagai
dasar bagi dirinya dalam membangun masa depan yang lebih baik.
Visi, misi,tujuan, dan sasaran
pendidikan tersebut, secara eksplisit atau tertulis tentu belum ada. Namun bagi
segi kebijakannya secara umum serta hasil-hasil yang dicapai oleh bani umayyah
mengandung visi, misi, tujuan, dan sasaran.
Sejarah mencatat, bahwa
pada masa dinasti bani umayyah telah dilakukan hal-hal sebagai berikut:
a. Melakukan pemisahan antara kekuasaan
agama dan kekuasaan politik, sehingga terjadi secara dikotomi, namun bukan
dalam hal ilmu agama dan ilmu umum.
b. Melakukan pembagian kekuasaan kedalam
bentuk provinsi, yaitu syiria dan
palestina,kufah,irak,basrah,Persia,sijistan,khurrasan,Bahrain,oman,najd,yaman,armenia,hijaz,karman,
dan india,mesir,afrika,yaman,arab selatan,serta Andalusia.
c. Membentuk orgnisasi dalam
lembaga-lembaga pemerintahan dalam bentuk departemen, seperti dewan al-kahawarij
yang mengurusi pajak, dewan rasail yang mengurusi pos, dewan musghilatyang
menangani kepentingan umum, dan dewan al-hatim yang menangani dokumen
Negara.
d. Membentuk organisasi keuangan yang
terpusat pada baitul mal yang diperoleh dari pajak tanah,perorangan,dan
nonmuslim, serta mencetak mata uang.
e. Membentuk organisasi kehakiman.
f. Membentuk organisasi ketentaraan yang
umumnya terdiri dari orang-orang keturunan arab.
g. Membentuk lembaga sosial dan budaya.
h. Membentuk bidang seni rupa seperti seni
ukur, seni pahat dan kaligrafi.
i.
Membentuk
lembaga arsitektur, sebagaimana terlihat pada arsitektur kubah al-sakhra di
baitul maqdis, yaitu kubah batu yang didirikan pada masa khalifah abdul malik
bin marwan pada tahun 691 M.
Terjadinya berbagai kemajuan
tersebut dipastikan karena didukung oleh tersedianya sumber daya manusia yang
memiliki pengetahuan,keterampilan, keahlian teknis, dan pengalaman yang
dihasilkan melalui proses pendidikan dalam arti luas. Sejarah mencatat bahwa
disam[ing melakukan ekspansio territorial, pemerintah dinasti umayyah juga
menaruh perhatian dalam bidang pendidikan. Memberikan dorongan yang kuat dalam
kemajuan dunia pendidikan dengan menyediakan sarana dan prasarana. Hal ini
dilakukan dengan tujuan agar para ilmuan, seniman, para ulama dapat
mengembangkan bidang keahliannnya masing-masing serta mampu melakukan
kaderisasi.
2.
Kurikulum
Pada masa bani umayyah terdapat dua
jenis pendidikan yang berbeda system dan kurikulumnya, yaitu pendidikn khusus
dan pendidikan umum. Pendidikan khusus adalah pendidikan yang diselenggarakan
dan diperuntukkan bagi anak-anak khalifah dan anak-anak pembesarnya.
Kurikulumnya diarahkan untuk memperoleh kecakapan memegang kendali
pemerintahan, atau hal-hal yang ada sangkut pautnya dengan keperluan dan
kebutuhan pemerintahan,. Tempat pendidikannya di istana dan guru-gurunya
ditunjuk dan diangkat oleh khalifah dengan mendapatkan jaminan hidup. Sedangkan
khusus adalah pendidikan yang diperuntukkan bagi rakyat biasa. Pendidikan ini
merupaka kelanjutan dari pendidikan yang telah ada dari zaman nabi masih hidup,
ia merupakan sarana yang sangat penting bagi kehidupan agama. Karena ia
merupakan kelanjutan dari pendidikan sebelumnya, maka kurikulum yang
digunakanpun sama dengan kurikulum sebelumnya. Yang bertanggung jawab atas
kelancaran atas pendidikan ini adlah para ulama, merekalah yang memikul tugas
mengajar dan membimbing rakyat. Mereka bekerja atas dasar dorongan moral serta tanggung
jawab agama, bukan atas dsar penunjukan dan pengangkatan oleh pemerintah.
Karena itu mereka tidak memperoleh jaminan hidup dari pemerintah.
Kurikulum pendidikan pada dinasti
bani umayyah adalah:
a. Ilmu agama: al-qur’an, hadist, dan
fiqih. Sejarah mencatat bahwa pada masa khalifah umar bin abduk aziz dilakukan
proses pembukuan hadist, sehingga studi hadist mengalami pengembangan yang
pesat.
b. Ilmu sejarah dan geografi, yaitu segala
ilmu yang membahas tentang perjalanan hidup,kisah, dan riwayat
c. Ilmu pengetahuan bidang bahasa, yaitu
segala ilmu yang mempelajari segala tantang bahasa, nahwu, sorf.
d. Filsafat, yaitu segala ilmu yang pada
umumnya berasal dari bahasa asing seperti ilmu matntik,kimia,astronomi,ilmu
hitung, dan ilmu yang berhubungan dengan ilmu kedokteran
3.
Kelembagan
Lembaga-lembaga pendidikan yang
berkembang pada zaman bani umayyah, selain masjid,kuttab, dan rumah sebagaimana
yang telah ada sebelumnya, juga ditambah dengan lembaga pendidikan seperti
istana,badiah,perpustakaan,al-bimaristan dan majelis sastra
a. Istana
Pendidikan di istana bukan saja
mengajarkan ilmu pengetahuan umum,melainkan juga mengajarkan tentang
kecerdasan,jiwa,dan raga anak.
b. Badiah
Lembaga pendidikan badiah ini muncul
seiring dengan kebijakan pemerintah bani umayyah untuk melakukan program
arabisasi yang digagas oleh khalifah abdul malik bin marwan. Secara harfiah
badiah berarti dusun badui di oadang sahara yang didalamnya terdapat bahasa
arab yang masih fasih dan murni sesuai dengan kaidah bahasa arab.
c. Perpustakaan
Perpustakaan tumbuh dan berkembang
seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan serta kegiatan
penelitian dan penulisan karya ilmiah. Pada pendidikan dan pengajaran yang
berbasis penelitian, perpustakaan memegang peranan yang sangat penting. Ia
menjadi jantung sebuah lembaga pendidikan.
d. Al-bimaristan
Al-bimaristan adalah rumah sakit serta
berfungsi sebagai tempat melakukan magang dan penelitian bagi calon dokter.
Dimasa sekarang al-baristan dikenal dengan istilah teaching hospital (rumah
sakit pendidikan)
e. Kuttab
Anak memerlukan pendidikan dan
pelajaran yang lebih intensif agar memperoleh hasil yang diharapkan, tertib dan
teratur. Cara demikian tidak mungkin dilakukan dirumah. Karena itu diperlukan
tempat dan ruang khusus di luar rumah.
Menempatkan anak-anak belajar dimasjid,
akan menimbulkan kegaduhan orang lain yang sedang melaksanakan ibadahnya.
Selain itu kebersihan masjid pun tidak terjamin. Sifat dari pada anak-anak
adalah aktif selalu bergerak tanpa menghiraukan keadaan sekelilingnya.
Jalan keluar dari kesulitan ini adalah
mendirikan ruangan khusus diluar rumah dan di luar ruangan masjid. Tempat
elajar anak-anak ini lalu disebut kuttab.
Dalam perkembangan selanjunya kuttab
ini mengalami perubahan-perubahan dan perkembangan bentuk serta system
organisasinya. Akan tetapi bentuk kuttab yang pertama masih tetap menjalankan
fungsinya yang semula, dengan guru-gurunya terdiri dari orang-orang dzimmi yang
mengajar menulis dan membaca. Kuttab ini mulai muncul pada zaman al-hajjaj ibnu
yusuf ats-tsaqafi. Dalam kuttab ini anak-anak mulai menghafal al-qur’an secara
teratur karena ia merupakan sumber kehidupan keagamaan dan dasar pembinaan yang
dibutuhkan oleh setiap muslim. Menurut Prof,Dr,A Salabi “kuttab dari jenis ini
sebagai suat rumah perguruan untuk umum, adalah hasil perkembangan darihasil
pendidikan putera raja-raja dan pembesarnya”.
f. Masjid
Mesjid sangat erat hubungannya dengan
sejarah pendidikan islam, ia merupakan suatu lembaga pendidikan islam sejak
awal dibangun oleh nabi Muhammad SAW. Dari masjid dikumandangkan seruan
iman,taqwa,akhlaq dan ajaran-ajaran kemasyarakatan: aik yang berhubungan dengan
individu kenegaraan maupun yang berhubungan dengan sosial ekonomi dn sosial
budaya yang adil dan beradap serta diridhai allah SWT.
Pernan masjid sebagai pusat pendidikan
dan pengajaran senantiasa terbuka lebar bagi setiap orang yang merasa dirinya
mampu dan cakap untuk memberikan atau mengajarkan ilmu pengetahuan.setelah
pelajaran anak-anak di kuttab berakhir, mereka melanjutkan pendidikannya
ketingkat menengah yang dilakukan di masjid.
Dalam masjid terdapat dua tingkatan
sekolah : tingkat menengah dan tingkat perguruan tinggi. Pelajaran yang
diberikan pada tingkat menengah dilakukan secara perseorangan. Sedangkan pada tingkat
perguruan tinggi dilakukan pada tingkat halaqah, murid duduk bersama
mengelilingi gurunya yang memberikan pelajaran pada mereka. Ditingkat menengah
diberikan pelajaran al-qur’an dan tafsir,hadist, dan fiqih. Sedangkan pada
tingkat perguruan tinggi diberikan pelajaran tafsir, hadist,fiqih, dan syari’at
islam.
g. Majelis sastra
Majelis sastra adalah perkembangan yang
dari masjid yang biasa dilakukan oleh para khulafaur rasyidin bersama para
sahabat lainnya untuk bermusyawarah dan berdiskusi tentang masalah-masalah yang
memerlukan penyeselaian secara tuntas. Dalam majelis ini para sahabat mempunyai
kebebasan yang penuh dalam mengemukakan kritikan-kritikan dan pendapat mereka
Musyawarah dan diskusi mengandung
unsure pendidikan yang meliputi penggunaan dan pengendalian akal pikiran serta
perasaan dan tata tertib berdasarkan ketentuan-ketentuan atau dalil-dalil yang
berlaku. Selain itu dalam majelis ini juga terjadi proses transformasi ilmu
pengetahuan, permasalahan yang dikemukakan dan hasil pemecahannya kepada
peserta.
4. Pendidik
Pendidik ialah seorang yang tugasnya
selain mentransfer ilmu pengetahuan dan nilai-nilai kepada peserta didik, juga
menumbuhkan,membina,dan mengembangkan bakat,minat,dan seganap potensi yang
dimiliki peserta didik,sehingga menjadi actual dan terperdaya secara optimal.
5. Sarana dan
prasarana.
Sarana dapat diartikan sebagai sesuatu
yang secara langsung maupun tidak langsung dapat digunakan dalam mendukung
terlaksananya berbagai kegiatan. Dalam kegiatan pendidikan, sarana yang
diperlukan antara lain gedung sekolah, perpustakaan, tempat praktekum,
sumber-sumber bacaan, peralatan laboratorium, peralatan praktikum, peralatan
mengajar dan belajar. Adapun yang termasuk prasarana antara lain halaman
masjid, lapangan olahraga, tempat parker, tempat istirahat, kantin dan
sebagainya.
6. Pembiayaan
Pembiayaan pendidikan diartikan sebagai
usaha menyediakan sumber dana, system pengelolaan dan penggunaannya untuk
berbagai kegiatan, termasuk pendidikan, pembiayaan yang diperlukan untuk
mengadakan auat membeli segala hal yang dibutuhkan untuk pendidik, seperti
untuk membangun gedung sekolah, perpustakaan, dan lain-lain.
7. Pengelolaan
Pengelolaan pendidikan dapat diartikan
sebagai kegiatan merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan, mengawasi,
membina, dan menilai hal-hal yang berkaitan dengan seluruh aspek pendidikan:
kurikulum, proses belajar mengajar, hasil pembelajaran, kinerja para guru dan
staf pelayanan administrasi pendidikan, dan respon masyarakat merupakan suatu
yang dinamis dan mudah dipengaruhi oleh berbagai faktordan keadaan.
8. Lulusan
Para lulusan pendidikan dapat diartikan
mereka yang telah tamat mengikuti pendidikan pada jenjang tertentu yang
selanjutnya mendapat gelar atau sebutan yang menunjukkan keahliannya,dan
memiliki otoritas atau kepercayaan untuk mengajarkan ilmunya. Para lulusan
pendidikan di zaman bani umayyah ini terdiri dari para tabi’in yaitu mereka
yang hidup dan berguru kepada sahabat nabi, atau generasi kedua setelah
sahabat. Dengan demikian, hubungan mereka dengan rasulullah terletak pada
hubungan mission, gagasan, cita-cita, dan semangat, dan bukan pada hubungan
persahabatan atau perawakan. Diantara para tabi’in tersebut, walaupun tidak
sempat berjumpa dan berguru dengan nabi Muhammad SAW, namun visi,misi, tujuan
perjuangannya tidak berbeda dengan yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW, bahkan
diantara para tabi’in tersebut ada yang masih memiliki keturunan dengan nabi
Muhammad SAW.
C.Sistem pemerintahan dinasti bani umayyah
Sejalan dengan watak dan prinsip
muawiyah tersebut serta pemikirannya yang perspektif dan inovatif, ia membuat
berbagai kebijaksanaan dan keputusan politik dalam dan luar negeri. Dan jejak
ini diteruskan oleh para penggantinya dengan menyempurnakannya.
Pertama. Pemindahan
pusat pemerintahan dari madinah ke damaskus. Keputsan ini didasarkan pada
pertimbangan politik dan alasan keamanan. Karena letaknya jauh dari kufah pusat
kaum syiah yang merupakan para pendukung ali. Dan jauh dari hijaz tempat
tinggal mayoritas bani hasyim, sehingga bisa terhindar dari konflik yang lebih
tajam antara dua bani itu dalam memperebutkan kekuasaan. Lebih dari itu,
damaskus yang terletak di daerah syam (suria) adalah daerah yang berada di
daerah genggaman pengaruh muawiyah selama 20 tahun sejak ia diangkat menjadi
gubernur di distrik itu sejak zaman khalifah umar bin khattab.
Kedua. Muawiyah
memberi penghargaan kepada orang-orang yang berjasa dalam perjuangannya
mencapai pundak kekuasaan. Seperti amr bin ash ia angkat kembali mejadi
gubernur mesir, Al-mughirah bin syu’bah juga ia diangkat menjadi gubernur di
wilayah Persia. Ia juga mempermalukan dengan baik dan mengambil baik para
sahabat terkemuka yang bersikap netral terhadap berbagai kasus yang ditimbulkan
waktu itu, sehingga mereka berpihak kepadanya.
Ketiga. Menumpas
orang-orang yang berposisi yang dianggap berbahaya jika tidak bisa dibujuk
dengan harta dan kedudukan, dan menumpas kaum pemberontak. Ia menumpas kaum
khawarij yang merongsong wibawa kekuasaannya dan mengkafirkannya. Golongan ini
menuduhnya tidak mau berhukum kepada al-qur’an dalam mewujudkan perdamaian
dengan ali diperang shiffin melainkan ia mengikuti ambisi hawa nafsu
politiknya.
Keempat. Membangun
kekuatan militer yang terdiri dari tiga angkatan , darat, laut, dan kepolisian
yang tangguh dan loyal. Mereka diberi gaji yang cukup, dua kali lebih besar
dari pada yang diberikan umar kepada tentaranya. Ketiga angkatan ini bertugas
menjamin stabilitas keamanan dalam negeri dan mendukung kebijaksaan politik
luar negeri yaitu memperluas wilayah kekuasaan.
Kelima. Meneruskan
wilayah kekuasaan islam baik ke timur maupun ke barat. Perluasan wilayah ini
diteruskan oleh para penerus mu’awiyah, seperti khalifah abdul malik ke timur,
khalifah al- walid ke barat, dan ke prancis di zaman khalifah umar bin abdul
aziz. Perluasan wilayah dizaman dinasti ini merupakan ekspansi besar kedua
setelah ekspansi besar pertama dizaman umar bin khattab. Daerah-daerah yang
dikuasai ummat islam dizaman dinasti ini meliputi spanyol, afrika utara, suria,
palestina, semenanjung Arabia, irak, sebagian asia kecil, Persia, afganistan,
daerah yang sekarang disebut Pakistan, rukmenia, uzbek, dan kigris di asia
tengah dan pulau-pulau yang terdapat di laut tengah, sehingga dinasti ini
berhasil membangun Negara besar di zaman itu. Bersatunya berbagai suku bangsa
dibawah naungan islam melahirkan benih-benih peradaban baru yang bercorak
islam, sekalipun bani umayyah lebih memusatkan perhatiannya kepada pengembangan
kebudayaan arab. Benih-benih peradaban baru itu kelak berkembang pesat di zaman
dinasti abbasiyah sehingga dunia islam menjadi pusat peradaban dunia selama
beranad-abad.
Keenam. Baik
muawiyah maupun para penggantinya membuat kebijaksanaan yang berbeda dari zaman
khulafa al-rasyidin. Meraka merekrut orang-orang non muslim sebagai
pejabat-pejabat dalam pemerintahan, seperti penasehat, administrator, dokter
dan dikesatuan-kesatuan tentara, tapi dizaman umar bin abdul aziz kebijaksanaan
itu dihapuskan. Karena orang-rang non mslim yang memperoleh privilege di dalam
pemerintahan banyak merugikan kepentingan ummat islam bahkan menganggap rendah
mereka. Di dalam al-qur’an memang terdapat peringatan-peringatan yang tidak
membolehkan orang-orang mukmin merekrut orang-orang non-muslim sebagai teman
kepercayaan dalam mengatur urusan orang-orang mukmin.
Ketujuh. Mu’awiyah
mengadakan pembaharuan dibidang administrasi pemerintahan dan melengkapinya
dengan jabatan-jabatan baru yang dipengaruhi oleh kebudayaan Byzantium
Kedelapan. Kebijaksanaan
dan keputusan politik penting yang dibuat oleh oleh khalifah muawiyah adalah
mengubah sistem pemerintahan dari bentuk khalifah yang bercorak demokratis
menjadi system monarki dengan mengangkat puteranya, yazid, menjadi putera
mahkota untuk menggantinya sebagai khalifah sepeninggalannya nanti. Ini berarti
suksesi kepemimpinan berlangsung secara turun temurun yang diikuti oleh para
penggantinya muawiyah. Dengan demikian ia mempelopori untuk meninggalkan
teradisi dizaman khulafa al-rasyidin dimana khilafah ditetapkandengan pemilihan
oleh ummat. Lebih dari itu mu’awiyah telah melanggar asas musyawarah yang
diperintahkan melalui al-qur’an agar segala urusan diputuskan melalui
musyawarah.
Karena itu keputusan politik mu’awiyah
ini mendapat protes dari ummat islam golongan syi’ah, pendukung ali, abd
al-rahman bin abi bakar, husein bin ali, dan Abdullah bin zubair. Bahkan
kalangan tokoh masyarakat madinah mengadakan dialog dengan mu’awiyah. Merka
menyarankan agar ia mengikuti jejak rasulullah atau abu bakar dan umar dalam
urusan khalifah, tidak mendahulukan kabilah dari ummat. Mu’awiyah tidak
menggubris saran ini sama sekali. Alasan yang dikemukakan adalah karena ia
khawatir akan timbul kekacauan, dan akan mengancam stabilitas keamanan kalau ia
tidak mengangkat putera mahkota sebagai penggantinya.
Keputusan ini direkayasa oleh mu’awiyah
seakan-akan mendapat dukungan dari para pejabat penting pemerintah. Ia
memanggil para gubernur datang ke damasks agar mereka membuat semacam
“kebulatan tekad” mendukung keputusannya. Ia meminta salah seorang gubernur
yang bernama al-dhahhak bin qais al-fahri agar, setelah mu’awiyah berpidato dan
member nasehat dalam suatu pertemua, minta izin berbicara dengan memuji allah
dan menyatakan, yazid adalah orang yang pantas menduduki khalifah setelah
mu’awiyah. Kepada para gubernur lain diminta oleh mu’awiyah agar membenarkan
ucapan dhahhak. Mereka memenuhi perintah itu, kecuali gubernur ahnaf bin qais.
Walaupun mu’awiyah mengubah system
pemerintahan menjadi monarki, namun dinasti ini tetap memakai gelar khalifah.
Bahkan mu’awiyah menyebut dirinya sebagai amir al-mu’minin. Dan status jabatan
khalifah diartikan sebagai “wakil allah”dalam memimpin ummat dengan
mengaitkannya kepada al-qur’an (surat al-baqarah ayat 30). Atas dasar ini
dinasti menyatakan bahwa keputusan-keputusan khalifah didasarkan atas perkenaan
allah. Siapa yang menentangnya adalah kafir.
D.Ciri-ciri system pemerintahan dinasti umayyah
Ciri-ciri khusus yang membedakan dari
praktek pemerintahan khulafaur al-rasyidin dan pemerintahan dinasti umayyah.
Ciri-cirinya adalah : unsure pengikat bangsa pada kesatuan lebih ditekankan
pada kesatuan politik dan ekonomi, khalifah adalah jabatan sekuler dan
berfungsi sebagai kepala pemerintahan eksekutif, kedudukan khalifah masih
mengikuti tradisi kedudukan syaikh arab, dan kerena itu siapa saja boleh
bertemu langsung dengan khalifah untuk mengadukan haknya, dinasti ini lebih
mengarahkan kebijaksanaan dan perluasan kekuasaan politik atau perluasan
wilayah kekuasaan wilayah Negara, dinasti ini bersifat ekslusif kare lebih mengutamakan
orang-orang berdarah arab duduk dalam pemerintahan, orang-orang non arab tidak
mendapat kesempatan yang sama luasnya dengan orang-orang arab, dan qadhi
mempunyai kebebasan dalam menentukan perkara. Disamping ini dinasti tidak
meninggalkan unsure agama dalam pemerintahan. Formalitas tetap dipatuhi dan
terkadang menampilkan citra dirinya sebagai pejuang islam. Cirri lain dinasti
ini kurang meaksanakan musyawarah. Karenanya kekuasaan khalifah mulai bersifat
absolute walaupun belum begitu menonjol. Dengan demikian tampilnya pemerintahan
dinasti umayyah yang mengambil bentuk monarki merupakan babak kedua dari
prakteknya pemerintahan ummat islam dalam sejarah.
E.Masa kemunduran dan kerutuhan bani umayyah.
Sepeninggalan umar bin abdul aziz yang
dikenal dengan sufinya bani umayyah, kekuasaan dinasti umayyah dilanjutkan oleh
yazid bin abdul malik. Masyarakat yang sebelumnya hidup dalam ketentraman dan
kedamaian, pada masa itu berubah menjadi kacau. Dengan latar belakang dan
kepentingan etnis politi, masyarakat menyatakan konfrontasi terhadap pemerintah
yazid bin abdul malik yang cenderung kepada kemewahan dan kurang memperhatikan
kehidupan rakyat. Kerusuhan terus berlanjut hingga masa pemerintahan khalifah
berikutnya, hisyam bin abdul malik. Bahkan pada masa ini muncul kekuatan baru
yang dikemudian hari menjadi tantangan berat bagi pemerintahan bani umayyah.
Kekuatan itu berasal dari kekuatan bani hasyim yang didukung oleh golongan
mawali. Walaupun sebenarnya hisyam bin abdul malik adalah seorang khalifah yang
kuat dan terampil. Akan tetapi, karena gerakan oposisi ini semakin kuat,
sehingga tidak berhasil dipandamkannya.
Akhirnya, masa keemasan dinasti umayyah
berakhir pada masa hisyam bin abdul malik, anak keempat abdul malik. Anak
keempat abdul malik. Oleh pakar arab, hisyam bin abdul malik dipandang sebagai
negarawan ketiga dalam dinasti umayyah setelah mu’awiyah dan abd al-malik.
Diriwayatkan bahwa gubernur di irak, Khalid bin abdillah al-qasri yang dibawah
pimpinannya daerah itu makmur, terutama karena pembangunan teknik dan saluran
air yang dikerjakan oleh hasan al-nabathi, menggelapkan kelebihan pendapatan
Negara sebesar 13 juta dirham dengan cara memotong pemasukan Negara tiga kali
lipat dari jumlah itu. Akhirnya Khalid bin abdillah al-qasri ditangkap pada
tahun 738 M, dipenjara, disiksa, dan diharuskan mengganti uang Negara. Kasus
itu hanyalah satu gambaran tentang penyimpangan administrasi dan korupsi dalam
pemerintahan bani umayyah yang menyebabkan keruntuhan.
Sejarawan arab sangat memuji hisyam bin
abdul malik. Dan empat penggantinya kecuali marwan bin Muhammad yang menjadi
khalifah terakhir bani umayyah, terbukti tidak cakap, atau bisa dikatakan tidak
bermoral dan bobrok. Bahkan para khalifah sebelum hisyam bin abdul malik pun,
yang dimulai oleh yazid bin mu’awiyah, lebih suka berburu, pesta minuman,
tenggelam dalam musik dan puisi, ketimbang membaca al-qur’an atau mengurus
persoalan Negara. Perilaku buruk kelas penguasa hanyalah gambaran kecil dari
kebobrokan moral yang bersifat umum. Buruknya peradaban teutama menyangkut
minuman keras, perempuan dan nyanyian. Telah menjangkiti para putera gurun.
Dari uraian diatas, dapat dikatakan
bahwa banyak sekali hal-hal yang memberikan kontribusi terhadap keruntuhan bani
umayyah. Namun secara garis besar dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1) Potensi perpecahan antara suku, etnis
dan kelompok politik yang tumbuh semakin kuat, menjadi sebab utama terjadinya
gejolak politik dan kekacauan yang menggangu stabilitas Negara.
2) Adanya permasalah suksesi kepemimpinan.
Tidak adanya aturan yang pasti dan tegas tentang peralihan kekuasaan secara
turun temurun mengakibatkan gangguan serius ditingkat Negara.
3) Sisa-sisa kelompok pendukung khalifah
ali bin abi thalib yang umumnya adalah kaum syi’ah dan kelompok khawarij terus
aktif menjadi gerakan oposisi, baik secara terbuka maupun secara tersembunyi.
Tentu saja gerakan oposisi ini sangat berpengaruh sekali terhadap stabilitas
pemerintahan dinasti umayyah
4) Sebagian besar golongan mawali (non
arab), terutama diirak dn wilayah bagian timur lainnya, merasa tidak puas
dengan kebijaksanaan pemerintah dinasti umayyah. Karena status tersebut
menggambarkan inferioritas di tengah-tengah keangkuhan bangsa arab. Mereka
tidak mendapat fasilitas dari penguasa dinasti bani umayyah sebagaimana yang diperoleh oleh orang-orang
islam arab.
5) Sikap hidup mewah dilingkungan istana
merupakan salah satu faktor lemahnya pemerintahan dinasti umayyah, sehingga
keturunan dinasti umayyah tidak sanggup memikul beban berat kenegaraan ketika
mereka mewarisi kekuasaan.
6) Penyebab langsung tergulingnya
kekuasaan dinasti bany umayyah adalah munculnya kekuatan baru yang dipelopori
oleh keturunan al-abbas bin abdul muthalib. Gerakan ini sepenuhnya memperoleh
dukungan dari bani hasyim dan kubu syi’ah serta golongan mawali yang merasa
dianggap sebagai masyarakat kelas dua oleh pemerintah dinasti bani umayyah.
7) Pengkhianatan atas diri ali bin abi
thalib
8) Melanggar janji dengan hasan bin ali
yaitu dengan mengangkat yazid sebagai putera mahkota dinasti bani umayyah
9) Ta’asub jahiliyyah dengan cara
menghidupkan kembali faham kebangsaan dimasa jahiliyyah, yaitu paham kebangsaan
yang sempit yang mana paham tersebut tidak diizinkan oleh ummat islam.
10) Pengangkatan dua putera mahkota juga
buruk akibatnya. Putera mahkota yang lebih dahulu menduduki singgasana
khalifah, berusaha memecat saudaranya dan melantik puteranya sendiri. Hal ini
menimbulkan perpecahan dalam tubuh keluarga bani umayyah. Kemudian khalifah
yang baru membalaskan dendamnya kepada siapa saja yang membantu singgasananya.
Oleh karena itu perhatian dan simpati rakyat menjadi pudar. Mereka senantiasa
menunggu kedatangan seorang pemimpin yang akan mempersatukan mereka untuk
membalaskan dendam kepada keluarga bni umayyah. Di saat demikian abu muslim
muncul membawa suara baru dan janji perbaikan, dibawah bendera bani abbas.
Bab tiga
Kesimpulan dan saran
A.
Sejarah dinasti bani umayyah
bani umayyah adalah kekhalifahan islam
pertama setelah masa khulafa ar-rasyidin yang memerintah dari 661 M sampai 750
M di jazirah arab dan sekitarnya, serta dari 756 M sampai 1031 M di cordova, spanyol. Nama dinasti ini dirujuk
kepada umayyah bin abd asy-syam, kakek buyut dari khalifah pertama bani
umayyah, yaitu mu’awiyah bin abi sufyan atau kadangkala disebut juga dengan
mu’awiyah. Ia adalah pendiri dan khalifah secara resmi, menurut ahli sejarah,
terjadi pada tahun 660 M/40 H pada saat umayyah memproklamasikan diri menjadi khalifah
di iliyah (palestina). Setelah pihaknya dinyatakan oleh majelis tahkim sebagai
pemenang. Pemerintahan dinasti umayyah (41-132 H)
khalifah-khalifah dinasti umayyah
1. Mu’awiyah bin abi sofyan
2. Yazid bin mu’awiyah
3. Mu’awiyah bin yazid
4. Marwan bin hakam
5. Abdul malik bin marwan
6. Al-walid bin abdul malik
7. Sulaiman bin abdul malik
8. Umar bin abdil aziz
9. Yazid bin abdul malik
10. Hisyam bin abdul malik
B.
Sistem pemerintahan bani umayyah
1. Pemindahan pusat pemerintahan dari
madinah kedamaskus
2. Mu’awiyah member penghargaan kepada
orang-orang yang berjasa dalam perjuangan mencapai pundak kekuasaan
3. Menumpas orang-orang yang beroposisi
yang dianggap berbahaya jika tidak bisa dibujuk dengan harta dan kedudukan, dan
menumpas kaum pemberontak.
4. Membangun kekuatan militer yang terdiri
dari tiga angkatan, darat ,laut dan kepolisian yang tangguh dan loyal.
5. Meneruskan wilayah kekuasaan islam baik
ke timur maupun ke barat
6. Baik muawiyah maupun para penggantinya
maupun para penggantinya membuat kebijaksanaan yang berbeda dari zaman khulafa
al-rasyidin.
7. Muawiyah mengadakan pembaharuan
dibidang administrasi pemerintahan dan melengkapinya dengan jabatan-jabatan
baru yang dipengaruhi oleh kebudayaan Byzantium.
8. Mengubah system pemerintahan dari
bentuk khalifah yang bercorak demokratis menjadi monarki.
C.
Pendidikan dizaman dinasti bani umayyah.
Dinasti bani umayyah berkuasa cukup
lama selama kurang lebih 91 tahun lamanya. Kebijakan dan perubahan yang
dilakukan oleh para khalifah tersebut menjadi pelajaran penting bagi pemimpin-pemimpin
islam saat ini. Bani umayyah dalam pengembangan pola pendidikan islam memang
masih sama dengan periodek sebelumnya tetapi sudah ada reformasi yang dilakukan
baik dari segi kurikulumnya maupun tata cara yang dilakukan oleh para
pendidiknya. Salah satu kemajuan pendidikan dizaman bani umayyah yakni
pengembangan kurikulum pengajaran dan pendidikannya meskipun hal-hal tersebut
belum terlalu formal seperti saat ini. Pembangunan sarana prasarana pendidikan
baik pendidikan di khuttab, ruang sastra, dan bahasa, perpustakaan serta rumah
sakit untuk praktik bagi calon dokter sudah tersedia pada saat itu. Kemajuan
pengetahuan dan pembaharuan system pendidikan pada zaman daulah bani umayyah
sudah terlihat. Karena pemerintah bani umayyah menaruh perhatian yang sangat
dalam pada bidang pendidikan. Memberikan dorongan yang kuat terhadap bidang
pendidikan dengan menyediakan sarana dan prasarana. Hal ini dilakukan agar para
ilmuan, seniman, dan para ulama mau melakukan pengembangan bidang ilmu yang
dikuasainya serta mampu melakukan kaderisasi ilmu.
D. Masa
kemunduran dan keruntuhan dinasti umayyah.
1. Potensi perpecahan antara suku, etnis
dan kelompok politik yang tumbuh semakin kuat
2. Tidak adanya aturan yang pasti dan
tegas tentang peralihan kekuasaan secara turun temurun yang mana mengakibatkan
gangguan serius ditingkat Negara
3. Sisa-sisa kelompok pendukung khalifah
‘ali bin abi thalib yang umumnya adalah kaum syi’ah dan kelompok khawarij terus
aktif menjadi gerakan oposisi
4. Sebagian besar golongan Malawi terutama
di irak dan wilayah bagian timur lainnya merasa tidak puas dengan kebijakan
pemerintah dinasti umayyah
5. Sikap hidup mewah dilingkungan istana
merupakan salah satu faktor lemahnya pemerintahan dinasti umayyah
6. Penyebab langsung tergulingnya
kekuasaan dinasti umayyah adalah munculnya kekuatan baru yang dipelopori oleh
keturunan al-abbas bin abdul muthalib.
Saran
Dengan mengetahui sejarah bani umayyah
terutama dalam bidang pendidikan sangat diharapkan kita yang notabenenya
sebagai mahasiswa ataupun calon pendidik. Mampu mengambil pelajaran dan hikmah
dari sejarah pendidikan pada zaman dinasti bani umayyah. Sehingga kita bisa
mengaplikasikan dan mengembangkan pada lembaga-lembaga pendidikan yang kita
bina nantinya.
Saya menyadari bahwa dalam penulisan
makalah ini masih sangat banyak kekurangan dan kesalahan, maka dari itu saya
meminta kritik dan saran dari dosen pengampu mata kuliah sejarah kebudayaan
islam agar saya dapat lebih baik lagi dalam mata kuliah sejarah kebudayaan
islam.
Daftar rujukan:
1. Al-maududi a’la abul, khilafah dan kerajaan, dar al-qalam,
Kuwait, 1978 M/1398 H.
2. Ruslan heri, khazanah menelisik warisan peradaban islam dari
apotek hingga computer analog, gramedia, Jakarta.
3. Zallum qadim abdul, system pemerintahan islam, darul ummah,
cetakan VI, maret 2002 M/1422 H.
4. Iskandar umar, tarikh islam, pondok modern Darussalam gontor
5. محمد
الحسين السماعيل, السقوط الأخير, مكتب وهبةز
6. Prof. Dr. koto aladin, M.A. (et.al), sejarah pendidikan
islam, Jakarta, PT.raja grafindo persada.
7. Dr. al-khani ahmad, ringkasan bidayah wa nihayah sejarah
awal mula penciptaan,kisah para nabi,kisah ummat-ummat terdahulu,sejarah nabi
dan khulafa’ rasyidin,daulah umawiyah dan abasiyah,hingga peristiwa tahun 768 H,
pustaka azzam.
8. Andi bastoni hepi, sejarah para khalifah, pustaka al-kautsar
9. Ph.D. qosim umam abu, tajarib
al-umam (experiences of nations), Tehran 2001, sorous press.